Kamis 04 Feb 2021 12:28 WIB

Dirut BSI Berharap BRIS Jadi Saham Primadona di Bursa

Kapitalisasi market BRIS naik puluhan kali lipat mencapai Rp 112,8 triliun.

Menteri BUMN Erick Thohir (ketiga kiri) bersama (dari kiri) Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen, Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Hery Gunardi dan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi saat IDX Debut BSI di Main Hall BEI, Jakarta, Kamis (4/2/2021). Debut BSI di pasar modal diikuti naiknya harga saham emiten berkode BRIS ini sebesar 0,73 persen dari harga pembukaan di level Rp2.750 menjadi Rp2.770 per lembar ketika pasar dibuka.
Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Menteri BUMN Erick Thohir (ketiga kiri) bersama (dari kiri) Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen, Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Hery Gunardi dan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi saat IDX Debut BSI di Main Hall BEI, Jakarta, Kamis (4/2/2021). Debut BSI di pasar modal diikuti naiknya harga saham emiten berkode BRIS ini sebesar 0,73 persen dari harga pembukaan di level Rp2.750 menjadi Rp2.770 per lembar ketika pasar dibuka.

IHRAM.CO.ID,JAKARTA -- Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk Hery Gunardi berharap saham perseroan dengan kode BRIS itu bisa menjadi saham primadona dalam perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejalan dengan meningkatnya kinerja perusahaan.

Hery menuturkan, harga saham BRIS pada saat penawaran umum perdana saham atau IPO itu sebesar Rp510 per saham. Sedangkan per 3 Februari 2021, harga saham BRIS di bursa mencapai Rp2.750 per saham atau naik sekitar lima kali lipat dibandingkan harga IPO.

"Selain itu, kapitalisasi market BRIS pada saat IPO hanya sebesar Rp4,96 triliun. Per tanggal 3 Februari 2021 kemarin, kapitalisasi market BRIS naik puluhan kali lipat mencapai Rp112,8 triliun. Melihat kinerja saham BRIS yang positif di tengah pandemi, kami berharap BRIS bisa menjadi primadona di bursa serta bisa masuk ke dalam indeks IDX BUMN20," ujar Hery saat pembukaan perdagangan BEI dalam rangka pengenalan nama PT Bank Syariah Indonesia Tbk di Jakarta, Kamis (4/2).

Selain itu, lanjut Hery, pihakya berharap kinerja saham BRIS tersebut semakin mendorong dan semakin menginspirasi sektor keuangan dan perusahaan keuangan syariah lainnya untuk melantai di bursa.

Sebagai bank hasil penggabungan, per Desember 2020, BSI memiliki total aset sebesar Rp240 triliun, total pembiayaan sebesar Rp157 triliun, dan total Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp210 triliun, serta total modal inti sebesar Rp22,6 triliun. BSI juga memiliki lebih dari 1.200 kantor cabang yang tersebar di seluruh indonesia dan sekitar 20.000 karyawan.

"Bank Syariah Indonesia akan jadi bank peringkat ketujuh di Indonesia berdasarkan total aset. Kami sadar bahwa tugas kami bukan hanya sekedar menggabungkan ketiga bank ini, melainkan dalam waktu yang bersamaan juga melakukan transformasi. Memperbaiki business process, penguatan dari sisi manajemen risiko, penguatan dari sisi human capital, dan tentunya penguatan dari sisi teknologi digital," kata Hery.

Ia menambahkan, BSI juga berkomitmen untuk menjadi lembaga perbankan yang melayani segala lini masyarakat dan menjadi bank yang modern serta inklusif dalam memberikan pelayanan kepada seluruh masyarakat dengan tetap menjunjung tinggi prinsip-prinsip syariah.

"Selain menjalankan fungsi intermediary dan menyalurkan pajak, Bank Syariah Indonesia juga memiliki konsep yang dapat dioptimalkan untuk melakukan pemertaan ekonomi masyarakat melalui Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf atau Ziswaf," ujar Hery.

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement