Parlemen Belanda: China Lakukan Genosida Muslim Uighur

Jumat , 26 Feb 2021, 06:17 WIB Redaktur : Muhammad Subarkah
penjaga keamanan berdiri di gerbang yang secara resmi dikenal sebagai pusat pendidikan keterampilan kejuruan di Huocheng .
penjaga keamanan berdiri di gerbang yang secara resmi dikenal sebagai pusat pendidikan keterampilan kejuruan di Huocheng .

IHRAM.CO.ID, AMSTERDAM - - Parlemen Belanda pada Kamis (25/2), mengeluarkan mosi tidak mengikat yang mengatakan bahwa perlakuan terhadap minoritas Muslim Uighur di Cina sama dengan genosida. Pernyataan ini merupakan langkah pertama yang dilakukan oleh negara di Eropa dalam masalah tersebut.

 

Terkait

"Genosida terhadap minoritas Uighur sedang terjadi di Cina," kata mosi tersebut, yang tidak langsung mengatakan bahwa pemerintah Cina bertanggung jawab.

Aktivis dan pakar hak asasi manusia mengatakan setidaknya satu juta Muslim ditahan di kamp-kamp di wilayah barat terpencil Xinjiang. Para aktivis dan beberapa politisi Barat menuduh Cina menggunakan penyiksaan, kerja paksa, dan sterilisasi.

Cina menyangkal pelanggaran hak asasi manusia tersebut. Pemerintah Beijing mengatakan kamp-kampnya menyediakan pelatihan kejuruan dan diperlukan untuk melawan ekstremisme.

Penulis mosi tersebut, anggota parlemen Sjoerd Sjoerdsma dari kiri-tengah Partai D-66, telah secara terpisah mengusulkan untuk melobi Komite Olimpiade Internasional untuk memindahkan Olimpiade Musim Dingin 2022 dari Beijing.

"Mengakui kekejaman yang terjadi terhadap Uighur di Cina apa adanya, yaitu genosida, mencegah dunia untuk melihat ke arah lain dan memaksa kami untuk bertindak,” katanya.

Mosi itu mengatakan bahwa tindakan pemerintah Cina seperti tindakan yang dimaksudkan untuk mencegah kelahiran dan memiliki kamp hukuman. Kondisi ini seperti yang berada di bawah Resolusi PBB 260 atau umumnya dikenal sebagai konvensi genosida.

A gate of what is officially known as a vocational skills education centre is photographed in Dabancheng

Keterangan foto: Sebuah gerbang yang secara resmi dikenal sebagai pusat pendidikan keterampilan vokasi difoto di Dabancheng.

 

Partai VVD konservatif Perdana Menteri Mark Rutte menentang resolusi tersebut. Menteri Luar Negeri Belanda, Stef Blok, mengatakan pemerintah tidak mau menggunakan istilah genosida, karena situasinya belum diumumkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau pengadilan internasional.

 

"Situasi Uighur sangat memprihatinkan," ujar Blok setelah mosi itu disahkan. Dia menambahkan bahwa Belanda berharap untuk bekerja sama dengan negara lain mengenai masalah tersebut.

 

Sebelum perlemen Belanda, Kanada sudah lebih dulu mengeluarkan resolusi sama. Parlemen negara itu memberi label perlakuan Cina terhadap Uighur adalah genosida awal pekan ini.

 Dwina Agustin /reuters

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini