Rabu 03 Mar 2021 05:05 WIB

Dzikir Tiap Pekan, Cara Muslim Cape Town Padamkan Kejahatan

Para ulama mengadakan sesi dzikir mingguan di pertemuan terbuka

Rep: Rizky suryarandika/ Red: Esthi Maharani
Ilustrasi Al-Quran dan Berdzikir
Foto: Republika/Thoudy Badai
Ilustrasi Al-Quran dan Berdzikir

IHRAM.CO.ID, CAPE TOWN -- Ibu Kota Afrika Selatan, Cape Town menjadi tempat dimana Islam membawa kedamaian bagi komunitas masyarakat. Selama tiga tahun terakhir, tim ulama menjalankan misi membawa perdamaian ke daerah yang menderita masalah geng dan narkoba.

Para ulama mengadakan sesi dzikir mingguan di pertemuan terbuka. Selama tiga tahun terakhir kegiatan itu, dikabarkan tidak pernah ada perkelahian antar geng selama satu setengah jam ibadah yang dihadiri oleh 100-400 orang.

"Ini bukan tentang angka. Bagian yang luar biasa adalah bahwa terlepas dari semua kondisi kami dapat menjalankan dzikir secara konsisten selama tiga tahun terakhir," kata penyelenggara kegiatan, Sheikh Mogamad Saalieg Isaacs dilansir dari About Islam pada Selasa (2/3).

Isaacs turut berbagi kisah tentang upaya mendamaikan masyarakat disana. Ia menyebut dialog yang melibatkan pemimpin agama yang berbeda di komunitas akan menjadi awal yang baik dalam upaya tersebut.

"Kejahatan tidak memiliki batasan dan tidak membedakan antara agama," ujar Isaacs.

Polisi Afsel sempat menyatakan Manenberg di Capetown sebagai "zona bahaya" pada pertengahan 2015. Bahkan selama beberapa bulan, ambulans tidak dapat memasuki daerah tersebut kecuali dikawal oleh polisi. Namun, para gangster disana kadang-kadang akan membantu para ulama.

"Ada periode tertentu antara 2018 dan 2019 di mana kejahatan di Manenberg menurun selama kami mengadakan program dzikir," ucap Isaacs.

Para ulama telah menerima penghargaan dari polisi di Manenberg atas peran yang diambil oleh sesi dzikir di masyarakat. Kegiatan dzikir diklaim telah menyebabkan ketenangan bagi masyarakat Manenberg.

"Kami hanya melakukannya seminggu sekali. Jika kami dapat menyelenggarakan program dzikir setiap hari, itu akan memiliki efek yang luar biasa, tetapi karena alasan logistik kami tidak dapat melakukannya," ungkap Isaacs.

Berdasarkan laporan Pew 2010, Muslim menyumbang 1,5% dari populasi di Afsel, dengan komunitas Muslim yang sebagian besar dideskripsikan sebagai orang kulit berwarna dan Asia. Para mualaf Afsel kulit hitam dan putih serta orang lain dari berbagai bagian Afrika bergabung dengan mereka. Islam mungkin menjadi agama konversi yang tumbuh paling cepat di negara ini, dengan jumlah Muslim kulit hitam tumbuh enam kali lipat, dari 12.000 pada tahun 1991 menjadi 74.700 pada tahun 2004.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement