Afghanistan Tak menentu Seiring Perginya Pasukan AS

Ahad , 25 Apr 2021, 05:09 WIB Redaktur : Muhammad Subarkah
Pejabat keamanan Afghanistan memeriksa lokasi ledakan bom di Kabul, Afghanistan
Pejabat keamanan Afghanistan memeriksa lokasi ledakan bom di Kabul, Afghanistan

Di provinsi Kandahar selatan, sedikitnya empat warga sipil tewas pada Jumat sore lalu dan tiga lainnya cedera ketika bom pinggir jalan lain di distrik Arghandab meledak. Kejadian ini dikatakan juru bicara kepolisian provinsi Jamal Barakzai mengatakan kepada ToloNews.

 

Terkait

Pejabat lokal menyalahkan Taliban atas ledakan itu, tetapi tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab. "Korban sipil di negara itu meningkat 29 persen pada kuartal pertama tahun ini," kata

Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam sebuah laporan pekan lalu. Selama beberapa waktu terkahir ini sudah 573 warga sipil Afghanistan tewas dan 1.210 luka-luka.

“Yang menjadi perhatian khusus adalah peningkatan 37 persen jumlah perempuan yang tewas dan terluka, dan peningkatan 23 persen pada korban anak-anak dibandingkan dengan kuartal pertama tahun 2020,” menurut laporan tersebut.

A health worker administers polio vaccine drops to a child in Chawni area on the outskirts of Kandahar, Afghanistan [File: Javed Tanveer/AFP]

Keterangan foto: Anak-anak Afghanistan bermain di tengah suasana perang.

Sementara Taliban sebelumnya menolak menghadiri KTT perdamaian apa pun sampai semua pasukan asing ditarik keluar dari Afghanistan. Ini terkait dengan kesepatakan Taliban dan Amerika Serikat pada tahun lalu  bahwa semua pasukan asing akan ditarik dari Afghanistan pada 1 Mei, tanggal yang dibatalkan minggu lalu oleh Presiden AS Joe Biden.

Taliban memerintah Afghanistan dari tahun 1996 hingga 2001, ketika mereka disingkirkan oleh pasukan pimpinan AS.

Sejak itu, mereka telah melancarkan perlawanan bersenjata jangka panjang dan masih menguasai sebagian besar wilayah Afghanistan. Tentara AS dan sekutunya hanya menguasai kawasan perkotaan, sedangkan kawasan luar kota praktis berada do kontrol Taliban.