IHRAM.CO.ID, YERUSALEM -- Israel dan Hamas mengumumkan gencatan senjata pada Kamis (20/5) waktu setempat untuk menghentikan konflik 11 hari yang menyebabkan kehancuran luas di Jalur Gaza dan membuat kegiatan sehari-hari di Israel terhenti.
Ketika gencatan senjata antara Israel dan Hamas mulai tepat pada pukul 02.00 pagi waktu setempat pada hari Jumat, Ribuan warga Palestina berkumpul di jalan-jalan Kota Gaza untuk menentukan apa yang disebut pendukung Hamas sebagai kekalahan pasukan Israel.
Dengan langit yang bebas dari ancaman pengeboman Israel untuk pertama kalinya sejak 10 Mei, pengeras suara di masjid-masjid meneriakkan takbir 'Allahu Akbar' ( Allah Maha Besar), yang sering terdengar selama hari raya Islam seperti Idul Fitri.
Suara dari para meminta warga untuk keluar dari "untuk meletakkan kemenangan", sementara beberapa pendukung Hamas membagikan permen dan yang lainnya membawa senjata di pundak mereka, sesekali menembak ke udara.
"Saya merasa kami menang," kata Ibrahim Hamdan, (26 tahun). Dia merasa telah berhasil dalam menyewaatkan roket oleh Hamas ke Israel yang akhirnya Israel menerima gencatan senjata.
"Ini pertama kalinya perlawanan melukai musuh," kata Ibrahim al Najjar, 26 tahun yang bergabung dengan dua konvoi lainnya.
Sama dengan Hamdan, dia pun menegaskan Hamas kini telah mencapai tonggak sejarah besar dalam perang kali sekarang. Ini karena untuk pertama kalinya roket Hamas mencapai Tel Aviv, kota pesisir Israel yang ramai. Padahal kota ini sudah dimasukan ke dalam zona aman oleh Israel.
"Ini kemenangan paling mewah karena setidaknya kami menyerang Tel Aviv," kata al Najjar. Bahkan dia mengatakan, perasaan kali ini jauh lebih terasa bahagia ketika menikah dahulu.
"Saya tidak begitu bahagia di hari pernikahan saya seperti saat mereka tiba di Tel Aviv."
Beberapa pendukung Hamas meneriakkan, "Kami adalah anak buah Mohammed Deif."
Teriakan penyebutan nama itu untuk mengacu pada komandan militer Hamas yang menurut pejabat Israel mereka coba bunuh, namun sejauh ini tidak berhasil.
Pada sisi lain, kehancuran di Gaza akibat serangan udara Israel menewaskan lebih dari 200 warga Palestina. Selain menghancurkan gedung-gedung, meninggalkan sebagian wilayah besar wilayah itu tanpa listrik atau air, puluhan ribu orang pun telah meninggalkan rumah mereka.
Keterangan foto: Kerusuhan hebat pecah di Ramla tadi malam di tengah kekerasan yang sedang berlangsung antara warga Palestina dan Israel di Yerusalem timur.(Foto Jerusalem Post).
Beberapa di antara kerumunan itu ada mempertanyakan apa yang telah dicapai oleh konflik tersebut. Ramadhan Smama keluar bukan untuk mengembalikan, katanya, tapi untuk menerima kehancuran.
Pria berusia 53 tahun itu mengatakan bahwa dia memang mengagumi kemampuan yang berkembang dari persenjataan roket Hamas. Namun,terlalu dini untuk menyatakan pertempuran itu akan meningkatkan kehidupan dua juta orang di Gaza.
“Saya tidak melihat prestasi,” katanya, “tapi saya berharap akan ada prestasi,” ujar Ramadhan.