Kamis 27 May 2021 10:38 WIB

PM Israel Kecam Komentar Menlu Prancis Soal Apartheid

Menlu Prancis sebut Israel Israel memiliki unsur-unsur apartheid

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Muhammad Subarkah
eorang pengunjuk rasa membawa tanda selama demonstrasi oleh pengunjuk rasa Palestina, Israel, dan asing menentang Rute 4370 yang baru dibuka, di Tepi Barat, pada 23 Januari 2019.
Foto: foreignpolicy.com
eorang pengunjuk rasa membawa tanda selama demonstrasi oleh pengunjuk rasa Palestina, Israel, dan asing menentang Rute 4370 yang baru dibuka, di Tepi Barat, pada 23 Januari 2019.

IHRAM.CO.ID, TEL AVIV – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengecam pernyataan Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian yang menyebut situasi di Israel memiliki unsur-unsur apartheid dan bakal bertahan lama.  

Netanyahu mengatakan komentar Le Drian tak memiliki dasar dan kasar. “Di Negara Israel, semua warga negara sama di depan hukum, terlepas dari etnis mereka,” ujarnya pada Rabu (26/5), dikutip laman Anadolu Agency. 

Akhir pekan lalu, Le Drian mengomentari eskalasi terbaru di wilayah Palestina, khususnya Jalur Gaza. Hal itu turut memicu aksi kekerasan serta bentrokan antara warga Arab-Israel di kota-kota Israel. 

“Eskalasi semacam itu jelas menunjukkan bahwa jika di masa depan kita memiliki solusi selain solusi dua negara (Israel-Palestina), kita akan memiliki unsur-unsur apartheid yang bertahan lama,” kata Le Drian. 

 

Pada 21 Mei lalu, Israel dan Hamas menyepakati penerapan gencatan senjata. Hal itu tercapai setelah pertempuran berlangsung selama 11 hari, yakni sejak 10 Mei. Baik Hamas dan Israel sama-sama mengklaim kemenangan. Selama pertempuran berlangsung setidaknya 284 warga Gaza, 66 di antaranya anak-anak, dilaporkan tewas. Sementara Israel mencatatkan setidaknya 12 korban jiwa akibat serangan roket Hamas. 

Pertempuran antara Israel dan Hamas yang berlangsung selama 11 hari di Jalur Gaza tak terlepas dari meningkatnya ketegangan di Yerusalem Timur. Sejak awal bulan ini, warga Palestina di Yerusalem Timur menggelar aksi demonstrasi menentang rencana Israel menggusur sejumlah keluarga Palestina yang tinggal di lingkungan Sheikh Jarrah. Namun aksi itu direspons represif dan brutal oleh aparat keamanan Israel. 

Situasi memburuk saat aparat keamanan Israel menggeruduk Masjid Al-Aqsa dan menyerang jamaah di dalamnya. Hamas sempat memperingatkan dan memberi tenggat waktu agar Israel segera menarik aparat keamanannya dari kompleks Al-Aqsa. Namun peringatan itu diabaikan. Hamas kemudian meluncurkan serangan roket ke wilayah Israel. Aksi itu direspons Israel dengan melancarkan agresi bertubi-tubi ke Gaza.  

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement