Sosok: Abdul Abdul Karim Oei (Bagian Pertama)

Kamis , 15 Jul 2021, 07:15 WIB Reporter :Ratna Ajeng Tejomukti/Hasanul Rizqa/ Redaktur : Agung Sasongko
Pengurus masjid melaksanakan shalat di Masjid Lautze di Jalan Lautze, Sawah Besar, Jakarta.
Pengurus masjid melaksanakan shalat di Masjid Lautze di Jalan Lautze, Sawah Besar, Jakarta.

Tanpa rasa canggung, dirinya bersahabat dengan sejumlah pejabat lokal, seperti asisten demang, demang, ataupun kontrolir. Kemampuannya dalam membangun hubungan interpersonal memang sangat baik. Ditambah pula dengan jiwa pergerakan yang dimilikinya, Oei pun menjadi seorang tokoh di tengah masyarakat setempat.

 

Terkait

Semasa remaja, ia sangat aktif dalam berbagai kegiatan kepemudaan. Bersama kawan-kawan Tionghoa, Oei mendirikan Hiapsianghwe. Organisasi ini menggelar macam-macam aktivitas untuk mempererat tali persaudaraan, semisal bermain musik, sepak bola, hingga piknik bersama. Tentu, lingkar pergaulannya tak melulu diisi orang-orang keturunan Cina.

Bersama kawan-kawan pribumi, Oei mendirikan organisasi Tanah Air Sendiri (TAS). Kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan TAS cukup mirip dengan Hiapsianghwe, yakni bertujuan meningkatkan solidaritas antarpemuda. Di sini, ia menjadi satu-satunya yang berasal dari keturunan Tionghoa.

Kehidupan di Bintuhan sangat majemuk. Oei muda tergugah menolong orang-orang miskin dan tertindas, di antaranya kaum petani. Ia menyaksikan sendiri bagaimana mereka diperas para rentenir yang menjadi kaki tangan rezim kolonial dan kapitalis Tionghoa.

Akibat terjerat utang berbunga besar dan penjualan sistem ijon, para petani menjadi sangat sengsara. Oei berkali-kali menyarankan mereka agar tidak lagi menjual hasil bumi lebih awal sebelum masa panen. 

 

Ia pun membantu semampunya beberapa keluarga melarat, semisal dengan memberi mereka pinjaman tanpa bunga. Karena keberaniannya ini, Oei justru dimusuhi para pejabat yang bermental rakus.

Di sisi lain, penduduk lokal makin menyukainya. Dirinya dianggap sebagai pengusaha yang memiliki kepedulian sosial tinggi serta tidak mau dijadikan alat penindasan Belanda.

Bersambung..