Mengapa Muslimah di Kanada Tinggal dalam Ketakutan?

Jumat , 16 Jul 2021, 01:29 WIB Reporter :Alkhaledi Kurnialam/ Redaktur : Esthi Maharani
Ilustrasi Islamofobia
Ilustrasi Islamofobia

IHRAM.CO.ID, KANADA -- Kasus serangan terhadap Muslimah dan Umat Islam belakangan ini terus terjadi di Kanada. Berbagai serangan dari fisik hingga ujaran kebencian lebih sering dialami Muslimah yang berhijab. Terutama setelah insiden sebuah keluarga Muslim ditabrak oleh seorang pengemudi di London, Ontario, Kanada yang membunuh hampir satu keluarga dan dipicu oleh kecenderungan anti-Muslim.

 

Terkait

Serangkaian serangan verbal dan fisik terhadap sebagian besar wanita Muslim kulit hitam di dan sekitar Edmonton sejak akhir tahun lalu juga marak terjadi. Salah satu kasus pada akhir Juni, dua saudara perempuan, wanita Muslim yang mengenakan jilbab, diserang oleh seorang pria bersenjatakan pisau dan melemparkan cercaan rasial kepada mereka di sebuah jalan di luar kota.  

Dalam kasus lain, wanita Muslim dijatuhkan ke tanah saat berjalan-jalan atau diancam saat menunggu angkutan umum.Polisi Edmonton mengaku telah menerima laporan tentang lima insiden yang melibatkan wanita kulit hitam yang mengenakan jilbab sejak 8 Desember 2020. Unit kejahatan rasial kepolisian menyebut telah menangkap dan menuntut seorang tersangka dalam setiap kasus.

Namun pendukung komunitas Muslim mengatakan insiden sering tidak dilaporkan. Karena kebanyakan korban mengaku ketakutan setelah kejadian tersebut.

“Kami mengadakan pertemuan balai kota di mana banyak wanita keluar dan benar-benar menyatakan bahwa mereka sebelumnya telah diserang dengan pisau. Tapi mereka hanya disuruh kembali ke rumah mereka, mereka telah mengalami banyak kekerasan berbasis gender dan kejahatan bermotif kebencian, tidak dilaporkan,” kata salah seorang korban.

“Perempuan kulit hitam Muslim diserang dan mereka diserang karena rasisme anti-Kulit Hitam dan mereka diserang karena retorika Islamofobia dan mereka diserang karena mereka perempuan. Saya merasa seperti saat ini kita berada di titik di mana kita tidak yakin apa yang akan terjadi pada kita ketika kita pergi ke luar,"tambahnya.

Ibukota Provinsi Alberta di Kanada barat, Edmonton adalah rumah bagi lebih dari 972.000 penduduk pada 2019, menurut lembaga survei. Dalam email ke Al Jazeera, Walikota Don Iveson mengatakan beberapa warga Edmonton belum mendapatkan pesan bahwa perilaku rasis dan fanatik tidak diterima di kota kami.

“Ada faktor sistemik dan jangka panjang yang berkontribusi untuk itu, ada juga masalah prasangka khusus di hati dan pikiran [warga Edmonton] yang seharusnya tahu lebih baik dan ada terlalu banyak dari orang-orang yang telah diberi keringanan dalam berbagai cara yang berbeda, untuk melakukan kebencian mereka di komunitas ini.  Dan saya, seperti kebanyakan orang Edmonton, ingin itu berhenti.  Sekarang,” kata pernyataan itu.

Iveson mengatakan dewan kota Edmonton mendukung seruan untuk memperkuat undang-undang tentang kebencian di Kanada dan telah memberikan bantuan keuangan kepada inisiatif Bolster untuk mengatasi kebencian dan kekerasan. Termasuk membentuk satuan tugas untuk memberikan saran tentang bagaimana membuat masyarakat merasa aman.

“Kota, Layanan Polisi Edmonton, dan Komisi Kepolisian Edmonton telah menanggapi dengan rencana kerja yang menguraikan 70 tindakan berbeda dalam menanggapi masalah yang diidentifikasi.  Strategi yang lebih komprehensif akan dilakukan pada awal 2022,” kata pernyataan itu.

Dewan kota juga mengaku meloloskan mosi awal bulan ini yang mengarahkan Edmonton untuk lebih terlibat dengan komunitas Kulit Hitam, Pribumi, dan komunitas kulit berwarna lainnya untuk mengatasi pelecehan dan kekerasan. Mosi tersebut juga memerintahkan walikota untuk menulis kepada pemerintah federal dan meminta peninjauan definisi kejahatan rasial saat ini untuk setiap kesenjangan atau bias ras, gender atau budaya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini