Sejarah Arab Saudi Lakukan Renovasi Masjidil Haram

Ahad , 18 Jul 2021, 10:02 WIB Reporter :Muhyiddin/ Redaktur : Muhammad Subarkah
Suasana shalat subuh di Masjidil Haram di masa pandemi.
Suasana shalat subuh di Masjidil Haram di masa pandemi.

IHRAM.CO.ID, MAKKAH -- Masjidil Haram merupakan situs paling suci dalam Islam dan terletak di jantung kota Makkah di Arab Saudi. Masjid agung ini menjadi bagian penting dari pelaksanaan ibadah haji, yang harus dilakukan setiap Muslim yang mampu.

 

Terkait

Dikutip dari Arabnews, Ahad (18/7), Masjidil Haram memiliki situs-situs penting, termasuk Ka'bah, Hajar Aswad, sumur Zamzam, Maqam Ibrahim dan perbukitan Safa dan Marwah. Masjidil Haram juga memiliki 13 menara yang menjadikannya sebagai masjid paling banyak memiliki menara. 

Banyak renovasi telah dilakukan untuk memperluas Masjidil Haram untuk meningkatkan kapasitas jamaah dan pengunjung. Renovasi ini banyak terjadi sebelum berdirinya Kerajaan Saudi, dan tiga ekspansi besar terjadi setelah berdirinya Kerajaan.

Ekspansi Saudi pertama dilakukan antara tahun 1955 dan 1973. Dalam renovasi ini, empat menara lagi ditambahkan, langit-langitnya diperbarui, dan lantainya diganti dengan batu dan marmer buatan. Galeri Mas'a (As-Safa dan Al-Marwah) termasuk dalam Masjid, melalui atap dan selungkup. 

Perluasan kedua dilakukan di bawah pemerintahan Raja Fahd antara tahun 1982 dan 1988. Dia menambahkan area sholat di luar ruangan ke masjid dan sayap baru yang dicapai melalui Gerbang Raja Fahd. 

Antara 1988 dan 2005, perluasan juga menambahkan 18 gerbang lagi, tiga kubah yang sesuai dengan posisinya di setiap gerbang, dan pemasangan hampir 500 kolom marmer. Perkembangan modern lainnya menambahkan lantai berpemanas, AC, eskalator, dan sistem drainase.

Ekspansi besar ketiga terjadi pada masa pemerintahan Raja Abdullah. Pada 2008, raja mengumumkan bahwa perluasan akan melibatkan pengambilalihan tanah di utara dan barat laut masjid, seluas 300.000 meter persegi. 

Pada 2011, rincian lebih lanjut tentang perluasan diumumkan, meliputi area seluas 400.000 meter persegi, yang akan meningkatkan kapasitas masjid dari 770.000 menjadi lebih dari 2,5 juta jamaah setelah selesai.

Pada Juli 2015, Raja Salman kemudian meluncurkan lima megaproyek sebagai bagian dari Proyek Ekspansi Raja Abdullah, seluas 456.000 meter persegi. Proyek ini dilakukan oleh Saudi Binladin Group.

Setelah merebaknya Covid-19, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah, pada 5 Maret 2020 Masjidil Haram mulai ditutup pada malam hari dengan waktu kehadiran jamaah yang dibatasi. Pada 4 Oktober 2020, ibadah umrah dilanjutkan secara bertahap dalam tiga fase.

Fase pertama dibatasi untuk warga negara Saudi dan ekspatriat dari dalam Kerajaan untuk memenuhi 30 persen dari kapasitas masjid. Diperkirakan hanya 6.000 jamaah yang bisa melakukan umrah dan sholat dengan mengenakan masker dan menjaga jarak sosial.

Tahap kedua juga terbatas untuk penduduk setempat, dengan cakupan kapasitas 75 persen. Hal ini hanya memungkinkan 15.000 jamaah dan 40.000 jamaah yang bisa memasuki Masjidil Haram dalam sehari.

Fase terakhir kemudian Kerajaan membuka pintu bagi peziarah dan jamaah dari luar Kerajaan untuk melakukan umrah, yang mencakup 100 persen kapasitas masjid. Hanya 20.000 peziarah, 60.000 jamaah, dan 19.500 pengunjung yang diizinkan masuk ke dalam masjid setiap hari dengan protokol kesehatan yang ketat. 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini