Menelusuri Perjuangan KH Abbas Buntet (I)

Jumat , 23 Jul 2021, 09:05 WIB Redaktur : Agung Sasongko
Bahtsul Masail di Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat, Kamis (13/4) malam.
Bahtsul Masail di Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat, Kamis (13/4) malam.

Bagaimanapun, kedua cabang tasawuf itu sama-sama diakui sebagai bagian dari tradisi pesantren tersebut. Bahkan, kedudukan KH Abbas tergolong istimewa. Sebab, dia merupakan mursyid tarekat Syatariyah dan sekaligus muqaddam tarekat Tijaniyah. 

 

Terkait

Hal ini menandakan luasnya pengetahuan dan corak pemikiran sang kiai yang terbuka sekaligus kritis. Demikian hasil riset Yuli Yulianti dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2014). Mengutip NU Online, beberapa tokoh hasil didikan KH Abbas untuk bidang tasawuf adalah KH Badruzzaman (Garut), KH Usman Dlomiri Cimahi (Bandung), KH Saleh, dan Kiai Hawi (Buntet).

Selain itu, KH Abbas juga diketahui menjadikan Pesantren Buntet lebih maju pada zamannya. Dia menerapkan dua metode pengajaran, yaitu cara formal berupa madrasah dan pola-pola tradisional. Dualisme sistem ini mulai efektif menjelang 1930. Di luar pendidikan, KH Abbas juga menjadikan pondok pesantren ini sebagai peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Para santri diajarkan keterampilan berwirausaha, semisal membatik atau teknik pertanian. Seperti ditunjukkan M Rizki Tadarus dalam risetnya untuk UIN Sunan Kalijaga (2016), sang kiai juga membuat dapur umum untuk keperluan warga sekitar yang kurang mampu.

Selain ilmu agama Di luar ilmu-ilmu agama, KH Abbas juga mengajarkan seni bela diri ke pada mereka. Hal ini kelak menjadi modal penting bagi para santri untuk ikut mempertahankan kemerdekaan negeri dari penjajah.