Jejak Perjuangan KH Noer Alie (II-Habis)

Rabu , 28 Jul 2021, 21:12 WIB Redaktur : Agung Sasongko
Menziarahi makam KH Noer Ali, di Pondok Pesantren Attaqwa Putri, Kampung Ujung Harapan, Kelurahan Bahagia, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi. Sabtu (17/4).
Menziarahi makam KH Noer Ali, di Pondok Pesantren Attaqwa Putri, Kampung Ujung Harapan, Kelurahan Bahagia, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi. Sabtu (17/4).

Persatuan ini tampak betul ketika rezim Presiden Soeharto mulai menjauh dari keberpihakan pada Muslimin. Pada 1980-an, misalnya, mulai muncul larangan jilbab di sekolah-sekolah.

 

Terkait

KH Noer Alie pun mengusung fatwa tentang busana Muslimah, yang intinya menolak pelarangan demikian. Kemudian, muncul kasus RUU Perkawinan pada 1973 yang dinilai menyimpang dari ajaran Islam.

Untuk menggalang resistansi atas rencana legislasi itu, KH Noer Alie mengerahkan tidak kurang dari 1.000 ulama dari Pesantren asy-Syafi'iyah, Jatiwaringin.

Mereka diimbaunya bersumpah untuk memperjuangkan jalannya RUU itu agar selaras dengan kaidah Islam. Perjuangan sang kiai juga tampak jelas dalam upaya menentang perjudian yang didukung negara, seperti SDSB. 

(Baca Juga: Jejak Perjuangan KH Noer Ali Bagian Pertama)