KH Mas Alawi, Sosok di Balik Nama NU (III)

Jumat , 20 Aug 2021, 03:34 WIB Reporter :Muhyiddin/ Redaktur : Agung Sasongko
Nahdlatul Ulama
Nahdlatul Ulama

"Renaisans di Mesir itu sudah tidak murni lagi, Kang Ridlwan, sudah dibawa makelar. Lah orang-orang itu mau melakukan pembaruan apa dalam tubuh Islam? Agama Islam sudah sempurna. Tidak ada lagi yang harus diperbaharui," sambung Kiai Mas Alwi lagi.

 

Terkait

Ia pun menambahkan, Renaisans yang diupayakan ada dalam dunia Islam merupakan upaya pecah belah yang dihembuskan dunia Barat. Kiai Ridlwan lantas bertanya, Dari mana sampeyan tahu? Karena saya berhasil masuk ke banyak perpustakaan di Belanda, jawabnya. Bagaimana caranya sampeyan bisa masuk

Kiai Mas Alwi kemudian menuturkan, bahwa selama di Belanda dirinya menikah dengan seorang perempuan setempat yang sudah diislamkannya. Istrinya itu kemudian mengantarkannya ke banyak perpustakaan. Setelah Kiai Mas Alwi mengisahkan perjalanannya ke Eropa secara panjang lebar, Kiai Ridlwan pun berkata, "Begini, Dik Alwi, saya ingin menjadi pembeli terakhir di warung ini. Ya jelas terakhir Kang Ridlwan, karena ini sudah malam. Bukan begitu. Sampeyan harus kembali lagi ke Nahdlatul Wathon. Sebab, sudah tidak ada yang membantu saya sekarang. Kiai Wahab lebih aktif di Taswirul Afkar. Sampeyan harus membantu saya, jelas Kiai Ridlwan.

Keesokan paginya, Kiai Mas Alwi ternyata sudah tiba di Nahdlatul Wathon sebelum sebelum Kiai Ridlwan sampai.

 

Kok sudah ada di sini? Iya Kang Ridlwan, tadi malam ternyata warung saya laku dibeli orang. Uangnya bisa kita gunakan untuk sekolah ini, jawab Kiai Mas Alwi. Demikianlah kedua kiai muda tersebut membesarkan sekolah Nahdlatul Wathon.