Selasa 07 Sep 2021 12:20 WIB

Kelompok Yahudi Minta Maaf Tolak Masjid Dekat Lokasi 9/11

Dulu, kelompok Yahudi menilai pembangnan masjid tidak perlu dan tidak benar.

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Esthi Maharani
 Petugas pemadam kebakaran dan penyelamat mencari di antara puing-puing World Trade Center di New York, AS, 13 September 2001 (diterbitkan kembali 03 September 2021). Pada tanggal 11 September 2001, selama serangkaian serangan teror terkoordinasi menggunakan pesawat yang dibajak, dua pesawat diterbangkan ke menara kembar World Trade Center yang menyebabkan runtuhnya kedua menara. Pesawat ketiga menargetkan Pentagon dan pesawat keempat menuju Washington, DC akhirnya menabrak sebuah lapangan. Peringatan 20 tahun serangan teroris terburuk di tanah AS akan diperingati pada 11 September 2021.
Foto: EPA-EFE/BETH A. KEISER
Petugas pemadam kebakaran dan penyelamat mencari di antara puing-puing World Trade Center di New York, AS, 13 September 2001 (diterbitkan kembali 03 September 2021). Pada tanggal 11 September 2001, selama serangkaian serangan teror terkoordinasi menggunakan pesawat yang dibajak, dua pesawat diterbangkan ke menara kembar World Trade Center yang menyebabkan runtuhnya kedua menara. Pesawat ketiga menargetkan Pentagon dan pesawat keempat menuju Washington, DC akhirnya menabrak sebuah lapangan. Peringatan 20 tahun serangan teroris terburuk di tanah AS akan diperingati pada 11 September 2021.

IHRAM.CO.ID, NEW YORK – Setelah terbuka menentang pembangunan pusat Islam dekat lokasi serangan 9/11 New York, AS lebih dari satu dekade, akhirnya pihak Liga Anti-Fitnah (ADL) mengeluarkan permintaan maaf. ADL mengatakan tindakan organisasi itu adalah sebuah kesalahan.

“Kami mengakui kesalahan, jelas dan sederhana,” tulis Pejabat Eksekutif ADL, Jonathan Greenblatt dalam op-ed CNN yang diterbitkan pada Sabtu.

Pada bulan Juli 2010, organisasi hak Yahudi-Amerika mengeluarkan pernyataan yang menyebut pembangunan pusat Islam di bawah bayang-bayang World Trade Center (WTC) akan menyebabkan beberapa korban lebih menderita. Pembangunan itu dinilai tidak perlu dan tidak benar.

Park 51, sebuah pembangunan yang berjarak dua blok dari Ground Zero, lahan bekas gedung WTC, memicu kontroversi nasional pada tahun 2010 ketika penentang menolak pembangunan pusat Islam dan ruang sholat di sana. Salah seorang pejabat AS dalam pemerintahan Presiden George W. Bush menuduh pembangaunan pusat Islam sebagai penghubung antara Islam dan radikaliasme serta kekerasan yang dilakukan oleh Al-Qaeda dan kelompok lain.

 

Setelah pernyataan tersebut dikeluarkan, Greenblatt mencoba menawarkan kompromi termasuk membangun pusat yang disebut sebagai Cordoba House di lokasi lain yang tidak dekat dengan lokasi Ground Zero.

“Saya percaya sikap yang kami ambil adalah salah satu yang kami berutang permintaan maaf kepada komunitas Muslim. Kami tidak bisa mengubah masa lalu. Tapi kami menerima tanggung jawab atas sikap tidak bijaksana kami di Cordoba House, meminta maaf tanpa peringatan dan berkomitmen untuk melakukan yang terbaik di masa depan untuk memerangi bias anti-Muslim,” ujar dia.

Permintaan maaf itu disampaikan menjelang peringatan 20 tahun serangan 9/11 yang menewaskan hampir 3.000 orang di New York City, Washington DC, dan Pennsylvania. Setelah serangan pada tahun 2001, Muslim dan orang-orang yang memiliki latar belakang Arab dan Asia Selatan menjadi sasaran praktik pemerintah AS termasuk pengawasan dan profil rasial.

Greenblatt mengatakan gelombang Islamofobia meningkat di tengah masuknya pengungsi Afghanistan setelah penarikan pasukan AS. Beberapa kelompok progresif menyambut permintaan maaf tersebut tapi mencatat lebih banyak yang harus dilakukan oleh ADL untuk memperhitungkan tindakan dan sikap berbahaya kelompok lainnya.

Dilansir Middle East Eye, Selasa (7/9), tahun lalu, lebih dari 100 kelompok hak menandatangani kampanye yang mendesak organisasi progresif untuk berhenti bekerja dengan ADL. Mereka mengklaim kelompok tersebut memiliki sejarah menyerang gerakan keadilan sosial yang dipimpin oleh komunitas yang terpinggirkan, termasuk Muslim, Arab, dan imigran.

CEO organisasi sebelumnya, Abraham Foxman mengatakan dalam sebuah wawancara tahun 2013 dengan Haaretz bahwa pemantauan luas komunitas Muslim adalah respons alami oleh pemerintah AS setelah serangan 9/11. Middle East Eye menghubungi ADL untuk memberikan komentar tapi tidak menerima tanggapan pada saat publikasi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement