Ahad 12 Sep 2021 15:59 WIB

Irama Adzan

Seni dalam Irama Adzan

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Muhammad Hafil
Irama Adzan. Foto: Azan (ilustrasi).
Foto: Republika/Agung Supriyanto
Irama Adzan. Foto: Azan (ilustrasi).

IHRAM.CO.ID,JAKARTA – Jika diperhatikan dengan cermat, ada perbedaan halus dalam ritme dan nada kata-kata adzan di berbagai wilayah. Direktur Ihsan Institut, Sheikh Ahmed Saad, mengatakan seni adzan dikembangkan pada masa Dinasti Ottoman dan merupakan cara kreatif bagi pendengar untuk mengetahui waktu sholat dengan mendengar nada adzan.

“Kala itu tidak ada jam tangan. Orang mungkin sedang sibuk bekerja di pertanian dan tidak dapat melihat waktu. Tapi dengan mendengar nada adzan, mereka akan tahu waktu sholat yang mana,” kata Sheikh Saad.

Baca Juga

Berdasarkan variasi sistem melodi maqam Timur Tengah, menggabungkan tangga nada, frasa, dan harmoni untuk menciptakan suasana hati baik dalam musik klasik maupun bacaan Alquran, adzan dapat membangkitkan banyak sekali emosi. Misal, adzan yang dilantunkan di maqam Nahawand yang dinamai berdasarkan provinsi Nahavand di Iran, tempat asalnya.

Imam Hafiz Ali dari Cambridge Central Mosque, Inggris, mengatakan irama Nahawand bersifat melankolis dan sering digunakan untuk sholat ashar pada Kamis. Sementara maqam Bayati adalah gaya adzan klasik yang digambarkan sebagai adzan yang menenangkan dengan nada yang hangat dan dalam.

 

“Dzuhur adalah ibu dari doa dan Bayati. Sholat dzuhur adalah yang pertama didirikan oleh umat Islam awal,” ujar Sheikh Saad.

Irama lambat maqam Sabah biasanya terdengar saat fajar untuk sholat subuh yang terdengar lembut ke dalam masjid. Untuk sholat maghrib adzan biasa dilatunkan dengan ketukan cepat maqam Segah.

“Waktu Maghrib juga merupakan waktu berbuka puasa selama Ramadhan dan puasa tambahan di luar bulan suci. Mereka tidak menginginkan adzan yang panjang saat ini. Selain itu, di bulan Ramadhan setelah berbuka, masyarakat harus bersiap-siap untuk sholat tarawih. Jadi adzan dipersingkat,” jelas Imam Ali.

Di Tunisia, muazin peserta pelatihan pergi ke Institut Musik Tunisia Rachidi untuk menyempurnakan gaya maqam dan penampilan adzan mereka. Sheikh Saad menyebut membutuhkan waktu enam bulan hingga lebih dari satu tahun bagi seorang muazin untuk bisa sepenuhnya terlatih.

Itu semua tergantung seberapa cepat mereka dapat memahami seluk-beluk dalam gaya, seberapa bagus telinga mereka, dan bakat mereka. Seorang siswa yang belajar bagaimana membaca Alquran dapat memilih maqam tertentu untuk dibaca dan dengan waktu dan keahliannya, kemungkinan akan mengembangkan gaya mereka sendiri.

“Jika Anda membaca sebuah ayat tentang siang dan malam, surga dan neraka, Anda akan menggunakan maqam Segah, seperti gelombang, itu kontras dengan emosi,” ucap Sheikh Saad.

Dikutip Middle East Eye, Jumat (10/9), irama adzan maghrib Sheikh Mohammad Rifat Mesir yang mantap masih memiliki kekuatan untuk menggerakkan Sheikh Saad. Sebagai seorang anak di tahun 1990-an, dia mendengarkan mendiang sheikh di rumah orang tuanya di kegubernuran Monufia, di Mesir utara.

“Sheikh Mohammad Rifat melambangkan bulan suci. Dia adalah Ramadhan dan Ramadhan adalah dia, keduanya terikat selamanya,” tuturnya.

Lahir pada tahun 1882 dan populer karena suaranya yang merdu, Sheikh Rifat adalah orang pertama yang membacakan Alquran dalam bahasa Arab di Radio BBC pada tahun 1935. Dia meninggal pada tahun 1950 tapi warisannya tetap hidup.

“Tidak heran dia dikenal sebagai Suara Surga bertahun-tahun kemudian masih terasa seperti adzannya datang kepada kita dari suatu tempat surgawi,” tambahnya. 

Sumber:

https://www.middleeasteye.net/discover/adhan-muslim-call-prayer-melodies-maqams

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement