Persamaan Wukuf di Arafah dengan Padang Masyhar

Rabu , 29 Sep 2021, 15:00 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Muhammad Hafil
 Persamaan Wukuf di Arafah dengan Padang Masyhar. Foto: Sebuah foto selebaran yang disediakan oleh Kementerian Haji dan Umrah Saudi menunjukkan jamaah haji, mengenakan masker pelindung wajah, berdoa di Jabal al-Rahmah (Bukit Rahmat) pada Hari Arafah, sebagai bagian dari ritual penting ziarah haji tahunan di kota tenda Arafat, Arab Saudi, 19 Juli 2021.
Persamaan Wukuf di Arafah dengan Padang Masyhar. Foto: Sebuah foto selebaran yang disediakan oleh Kementerian Haji dan Umrah Saudi menunjukkan jamaah haji, mengenakan masker pelindung wajah, berdoa di Jabal al-Rahmah (Bukit Rahmat) pada Hari Arafah, sebagai bagian dari ritual penting ziarah haji tahunan di kota tenda Arafat, Arab Saudi, 19 Juli 2021.

IHRAM.CO.ID, JAKART--Perjalanan haji ke Makkah sama dengan perjalanan menuju akhirat. Wukuf di Arafah menggambarkan padang masyhar yang sangat padat akan umat manusia alami.

 

Terkait

"Suasana itu mengingatkan kondisi di padang mahsyar. Di tempat itu, manusia pertama hingga yang terakhir dikumpulkan pada waktu yang sama untuk menunggu proses berikutnya; hisab dan mizan, di bawah terik matahari yang jaraknya sangat dekat," tulis H Shalahuddin Guntung, Lc dalam karyanya Haji dan Perjalanan Menuju Akhirat.

Baca Juga

Di sinilah penentuan orang masuk syurga atau neraka. Di mana tempat terakhir seorang manusia tergantung amal kebaikan selama di dunia.

"Perjalanan dan terminal menuju surga atau neraka di akhirat," katanya.

Di padang masyhar semua berkumpul setelah manusia mengalami kematian. Kematian merupakan proses yang pasti dialami oleh setiap makhluk hidup.

Dalam surah Ali Imran ayat 185 Allah berfirman yang artinya:

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati."

Seandainya ada makhluk yang dapat bebas dari kematian, maka yang paling pantas untuk itu adalah Rasulullah SAW.  Tetapi beliau juga wafat sebagaimana manusia lainnya.

Allah menegaskan hal itu dalam firmanNya surah Az-Zumar ayat 30 yang artinya.

"Sesungguhnya engkau-wahai Muhammad- akan mati dan mereka pun akan mati."

Ajal setiap manusia telah ditentukan waktunya oleh Allah Ta’ala. Waktu tersebut tidak dapat ditunda ataupun dimajukan. Allah berfirman Al-A’raf ayat 34 yang artinya:

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat [pula] memajukannya."

Ummu Habibah, salah seorang istri Rasulullah SAW berdoa memohon kepada Allah kiranya ia, Rasulullah, Abu Sufyan (ayahnya) serta Mu’awiyah [saudaranya] diberi usia panjang. Pada saat itu Rasulullah SAW menegaskan kepadanya:

"Engkau telah berdoa kepada Allah untuk ajal yang telah ditentukan, masa yang telah ditetapkan, dan rezeki yang telah dibagi-bagi. Allah tidak akan memajukan sesuatu sebelum masanya atau menunda sesuatu dari waktunya...”(HR. Muslim).

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini