Rabu 13 Oct 2021 13:14 WIB

Gaza Alami Krisis Air Bersih

Warga Gaza terancam krisis air bersih karena airnya asin dan tercemar

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani
Petugas membagikan air minum kepada warga di Jalur Gaza, Palestina
Foto: Dok DMI
Petugas membagikan air minum kepada warga di Jalur Gaza, Palestina

IHRAM.CO.ID, GAZA --  Sumber air di jalur Gaza telah tercemar. Warga pun terancam krisis air bersih karena mereka tidak bisa mengkonsumsi air yang terlalu asin. Mereka juga khawatir dengan dampak yang ditimbulkan dari air tersebut. Sebagian warga Gaza harus membeli air minum dari pemasok swasta.

“Rasanya seperti berasal dari laut.  Kami tidak bisa menggunakannya untuk minum, memasak, atau bahkan mandi,” kata Falesteen Abdelkarim (36 tahun) dari kamp pengungsi Al-Shati dilansir Aljazirah, Rabu (13/10).

Ia mengatakan, air di daerahnya tidak bisa diminum. Abdelkarim mengatakan, warga memiliki akses untuk menggunakan air keran hanya tiga kali seminggu. Bahkan terkadang air itu bercampur dengan limbah, karena infrastruktur yang rusak di kamp-kamp pengungsi.

“Hidup di kamp-kamp pengungsi sangat menyedihkan. Kami selalu membeli air minum dari pedagang kaki lima,” kata Abdelkarim, yang merupakan ibu dari lima anak.

 

Sebagian besar pedagang air swasta di Gaza menghilangkan garam air dan menjualnya kepada orang-orang di wilayah tersebut. Harga untuk 1000 liter air biasanya rata-rata adalah 30 shekel atau tujuh dolar AS.

Sementara itu, Muhammad Saleem (40 tahun) dari lingkungan Al-Sheikh Redwan di Gaza utara, mengatakan, upaya dia untuk menumbuhkan kebun di rumahnya telah gagal karena airnya terlalu tercemar. Dia mengatakan, air yang tercemar membuat tanamannya menjadi kering dan mati.

“Semua tanaman saya mengering dan mati karena salinitas air yang tinggi dan klorida yang tinggi,” ujar Saleem.

Saleem menambahkan, dia tidak mungkin menggunakan air keran kota untuk minum, memasak, atau kebutuhan lainnya. “Jika tanaman mati karena air ini, bagaimana dengan tubuh manusia?," ujarnya.

Organisasi hak asasi manusia telah memperingatkan krisis air bersih yang semakin memburuk di Jalur Gaza. Pada sesi ke-48 Dewan Hak Asasi Manusia PBB, Senin (11/10) lalu, Institut Global untuk Air, Lingkungan dan Kesehatan, serta Pemantau Hak Asasi Manusia Euro-Mediterania mengatakan, air di Gaza tidak dapat diminum dan secara perlahan telah meracuni warga.

"Blokade Israel telah menyebabkan kerusakan serius keamanan air di Gaza, dan membuat 97 persen air terkontaminasi. Penduduk dipaksa untuk menyaksikan anak-anak dan orang yang mereka cintai mengalami keracunan," ujar pernyataan bersama sejumlah organisasi hak asasi manusia.

Seorang ahli air yang berbasis di Gaza, Ramzy Ahel, mengatakan, pembicaraan tentang krisis air dimulai pada 2012, ketika PBB mengeluarkan pernyataan yang mengatakan Gaza akan menjadi tempat yang tidak layak huni pada 2020. Sembilan tahun sejak pembicaraan krisis air dimulai, angka dan statistik menunjukkan fakta mengerikan tentang situasi air di Jalur Gaza.

“Semua strategi pembangunan ditunda, dan satu-satunya akuifer dari jalur tersebut telah lumpuh selama bertahun-tahun.  Tidak ada alternatif, tidak ada sungai atau lembah di Jalur Gaza untuk menghentikan krisis air," ujar Ahel.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement