Taliban Beri Lampu Hijau Perizinan Sekolah Siswa Perempuan

Selasa , 19 Oct 2021, 05:21 WIB Reporter :Meiliza Laveda/ Redaktur : Esthi Maharani
Anak-anak perempuan berjalan ke atas saat mereka memasuki sekolah sebelum kelas di Kabul, Afghanistan, Ahad (12/9).
Anak-anak perempuan berjalan ke atas saat mereka memasuki sekolah sebelum kelas di Kabul, Afghanistan, Ahad (12/9).

IHRAM.CO.ID, KABUL – Kementerian Dalam Negeri Afghanistan di bawah pemerintahan Taliban mengumumkan siswa perempuan akan segera diizinkan kembali menuntut ilmu di sekolah menengah. Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Qari Saeed Khosty mengatakan informasi detail terkait waktu pelaksanaan akan diumumkan oleh kementerian pendidikan.

 

Terkait

“Dari informasi yang didapat, dalam waktu yang sangat singkat, semua universitas dan sekolah akan dibuka kembali dan semua perempuan dapat bersekolah dan mengajar,” kata Khosty.

Setelah Taliban menguasai Kabul, siswa perempuan tidak bisa bersekolah sampai lingkungan belajar yang aman dapat dibangun. Pengecualian siswa perempuan untuk bersekolah telah memperburuk keadaan bahwa Taliban dapat kembali menerapkan aturan keras pada tahun 1990-an. Kala itu, perempuan dilarang mengenyam pendidikan dan bekerja.

Taliban telah berjanji untuk menegakkan hak perempuan. Namun, sampai saat ini tindakan Taliban masih membuat masyarakat internasional khawatir.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengutuk sejumlah jani yang dilanggar Taliban kepada perempuan Afghanistan. Dia mengimbau Taliban untuk memenuhi kewajiban perempuan di bawah hukum hak asasi manusia internasional.

“Janji yang dilanggar menyebabkan mimpi buruk bagi perempuan Afghanistan. Padahal perempuan harus menjadi pusat perhatian,” kata Guterres.

Dilansir Aljazirah, Senin (18/10), penarikan kembali hak perempuan oleh Taliban juga telah memicu kritik dari Qatar dan Pakistan yang telah meminta masyarakat internasional untuk terlibat dengan Taliban. Pada konferensi pers bulan lalu, Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani kecewa melihat beberapa langkah mundur yang diambil oleh Taliban.

Qatar yang menjadi tuan rumah kantor politik Taliban harus digunakan sebagai model bagaimana masyarakat Muslim dapat dijalankan. “Sistem kami adalah sistem Islam. Akan tetapi kami memiliki jumlah perempuan melebihi laki-laki dalam angkatan kerja, pemerintahan dan pendidikan tinggi,” kata Al-Thani.

Meskipun Perdana Menteri Pakistan Imran Khan ragu Taliban akan melarang pendidikan bagi perempuan, mereka harus diingatkan bahwa Islam tidak akan pernah membiarkan hal seperti itu terjadi lagi. “Gagasan bahwa perempuan tidak boleh dididik sama sekali tidak sesuai ajaran Islam. Itu tidak ada hubungannya dengan agama,” kata Khan

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini