Riset: Islamofobia Lemahkan Hak Perempuan Muslim Amerika

Selasa , 19 Oct 2021, 18:18 WIB Reporter :Zahrotul Oktaviani/ Redaktur : Agung Sasongko
Muslimah Amerika/ilustrasi
Muslimah Amerika/ilustrasi

Di beberapa negara, wanita memang harus memakai penutup kepala atau perlu didampingi di luar rumah. Fakta lainnya, di Afghanistan perempuan dilarang bekerja, dan Taliban secara brutal menindak protes yang dilakukan perempuan.

 

Terkait

Namun, Sisemore berpendapat media cenderung menekankan cerita-cerita ini. “Saya pikir bagian dari masalah ini adalah bahwa dunia perlu terlihat seperti Amerika Serikat,” kata dia.

Sisemore mengakui media memiliki tanggung jawab mengangkat suara kaum terpinggirkan. Tetapi penggambaran Muslim di media cenderung menyoroti perang, kekerasan, kemiskinan dan perjuangan. Dia mencatat, tidak benar untuk selalu menyajikan kasus paling ekstrim, yang kemudian menjadi seluruh kebenaran bagi banyak pembaca.

Menurutnya, negara-negara dengan populasi Muslim terbesar, seperti Indonesia, Pakistan, India dan Bangladesh, telah memilih perempuan sebagai pemimpin negara. Sementara, Amerika Serikat belum pernah memilih seorang wanita sebagai presiden. Perdana Menteri Bangladesh saat ini adalah Sheikh Hasina, seorang wanita berusia 74 tahun yang telah menjabat sejak 2009.

Elsheikh juga mengatakan, sebelum invasi Soviet dan intervensi Amerika Serikat dengan mujahidin, di Afghanistan perempuan memegang beberapa posisi penting dalam pemerintahan.

Survei tersebut lantas menjelaskan bagaimana Islamofobia menciptakan batasan yang kaku bagi masyarakat. Wanita Muslim sering menjadi target utama insiden Islamofobia, sebanyak 74,3 persen dan ini harus menjadi perhatian semua pihak.

Ironisnya, Islamofobia yang melemahkan dan melunturkan hak-hak perempuan Muslim AS, digunakan sebagai untuk mengutuk masyarakat Islam.