PBB: 22 Juta Warga Afghanistan Hadapi Kekurangan Pangan Akut

Selasa , 26 Oct 2021, 12:13 WIB Reporter :Mabruroh/ Redaktur : Esthi Maharani
 Warga Afghanistan membawa pasokan ke rumah mereka saat senja di Kabul, Afghanistan, Selasa, 14 September 2021. Perserikatan Bangsa-Bangsa mengumpulkan lebih dari $1,2 miliar dalam janji darurat Senin untuk membantu 11 juta warga Afghanistan menghadapi krisis kemanusiaan yang meningkat di tanah air mereka dan jutaan lainnya di tempat lain di wilayah itu ketika kepala hak asasi manusia PBB menyuarakan keprihatinan tentang langkah pertama Taliban dalam membangun kekuasaan di negara yang terkepung dan miskin itu.
Warga Afghanistan membawa pasokan ke rumah mereka saat senja di Kabul, Afghanistan, Selasa, 14 September 2021. Perserikatan Bangsa-Bangsa mengumpulkan lebih dari $1,2 miliar dalam janji darurat Senin untuk membantu 11 juta warga Afghanistan menghadapi krisis kemanusiaan yang meningkat di tanah air mereka dan jutaan lainnya di tempat lain di wilayah itu ketika kepala hak asasi manusia PBB menyuarakan keprihatinan tentang langkah pertama Taliban dalam membangun kekuasaan di negara yang terkepung dan miskin itu.

IHRAM.CO.ID, KABUL -- Badan-badan PBB mengatakan pada Senin (25/10) bahwa lebih dari 22 juta warga Afghanistan akan menderita ketidakamanan pangan akut di musim dingin ini. PBB memperingatkan negara yang sudah tidak stabil itu menghadapi salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

 

Terkait

"Musim dingin ini, jutaan warga Afghanistan akan dipaksa untuk memilih antara migrasi dan kelaparan kecuali kita dapat meningkatkan bantuan penyelamatan jiwa,” kata Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia, David Beasley dilansir dari Alarabiya, Selasa (26/10).

Menurut Beasley, krisis ini sudah dalam skala yang lebih besar daripada yang dihadapi Yaman atau Suriah. Bahkan lebih buruk daripada keadaan darurat kerawanan pangan apa pun selain Republik Demokratik Kongo.

"Afghanistan sekarang berada di antara krisis kemanusiaan terburuk di dunia, jika bukan yang terburuk, ketahanan pangan telah runtuh," kata Beasley dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari Gulf News.

“Kita sedang menghitung mundur bencana dan jika kita tidak bertindak sekarang, kita akan menghadapi bencana total di tangan kita," sambungnya.

Menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh Program Pangan Dunia dan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, satu dari dua warga Afghanistan menghadapi fase 3 “krisis” atau fase 4 “darurat” kekurangan pangan.

Fase 4 adalah satu langkah di bawah kelaparan dan Afghanistan yang sudah berjuang untuk keluar dari perang saudara selama 20 tahun kini menghadapi musim dingin terburuk dalam satu dekade.

Pada Agustus lalu, Taliban berhasil menggulingkan rezim yang didukung AS dan mendeklarasikan pemerintahan sementara. Taliban bersumpah untuk memulihkan stabilitas negaranya.

Namun Taliban masih menghadapi serangkaian sanksi internasional dan kampanye serangan berdarah oleh kelompok garis keras saingannya. Sementara perubahan iklim telah membuat kekeringan di Afghanistan lebih intens.

Di bagian barat negara itu, ribuan keluarga miskin telah menjual ternak mereka dan melarikan diri. Banyak dari mereka mencari perlindungan dan bantuan di kamp-kamp sementara yang penuh sesak di dekat kota-kota besar.

Menanggapi krisis kemanusiaan ini, juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan bahwa pihaknya berusaha mengeluarkan orang-orang dari situasi saat ini dan membantu mereka. "Bantuan kemanusiaan global juga telah tiba," kata Mujahid.

“Kami berusaha mengatur dan mendistribusikan, termasuk makanan dan pakaian. Semua kekhawatiran akan teratasi,” janjinya.

“Mengenai kekeringan, kami berharap memiliki musim dingin yang basah. Tetapi jika kekeringan berlanjut, kami akan mengambil tindakan yang tepat di musim semi," tambah Mujahid.

Badan-badan PBB memperingatkan bahwa rencana tanggap kemanusiaan mereka hanya sepertiga yang didanai.

FAO mencari 11,4 juta dolar AS dalam pendanaan mendesak dan 200 juta dolar AS lebih lanjut untuk musim pertanian hingga 2022.

“Kelaparan meningkat dan anak-anak sekarat. Kami tidak dapat memberi makan orang dengan janji komitmen pendanaan harus berubah menjadi uang tunai, ”kata Beasley.

“Masyarakat internasional harus bersatu untuk mengatasi krisis ini, yang dengan cepat berputar di luar kendali," tambahnya.

 

Pemerintah Taliban Afghanistan meluncurkan program untuk mengatasi kelaparan pada Ahad (24/10). Taliban menawarkan gandum kepada ribuan orang dengan imbalan tenaga kerja.

Menurut juru bicara utama Taliban pada konferensi pers di Kabul selatan, skema itu akan diluncurkan di sekitar kota-kota besar Afghanistan dan mempekerjakan 40 ribu orang di ibukota saja.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini