Tantangan MUIS dan Komunitas Muslim di Singapura

Sabtu , 30 Oct 2021, 01:02 WIB Reporter :Fuji Eka Permana/ Redaktur : Agung Sasongko
Muslim Singapura
Muslim Singapura

IHRAM.CO.ID, SINGAPURA -- Kadir Maideen (54 tahun) bergabung dengan Dewan Agama Islam Singapura (Muis) pada Januari tahun ini di tengah pandemi Covid-19. Salah satu hal yang tidak bisa dilakukannya adalah bertemu dengan banyak pemangku kepentingan di masyarakat Muslim secara tatap muka.

 

Terkait

Ketika dia mengambil perannya pada Senin atau 1 November 2021 sebagai kepala eksekutif dewan hukum yang mengurus administrasi dan kepentingan komunitas Muslim Singapura, peningkatan keterlibatan akan menjadi salah satu prioritas utamanya.

Baca Juga

Dia mengambil alih jabatan pada saat pekerjaan Muis di belakang layar untuk mendorong agar perawat diizinkan mengenakan tudung telah membuahkan hasil.

Mulai Senin depan, perawat akan diizinkan untuk mengenakan tutup kepala sebagai bagian dari seragam mereka, dalam perubahan kebijakan yang diumumkan oleh Perdana Menteri Lee Hsien Loong dalam pidatonya di Hari Nasional pada bulan Agustus lalu.

Dilansir dari laman The Straits Times, Jumat (29/10), Kadir, mengaku telah mempersiapkan diri untuk menangani masalah komunitas apa pun yang mungkin muncul di masa depan.

"Saya pikir yang penting adalah ketika kita memiliki masalah komunitas, kita harus belajar dari apa yang telah kita lakukan di masa lalu, kita harus berkomunikasi, kita tidak boleh terburu-buru mengambil keputusan," kata Kadir.

"Terkadang komunikasi bisa terbuka, terkadang komunikasi perlu ditutup dan di dalam kelompok spesialis, dan komunitas di luar sana tidak boleh terburu-buru untuk mengambil keputusan tentang hasil karena terburu-buru tidak akan memberi kita solusi terbaik," jelasnya.