Kisah Jamaah Haji Ditinggal di Pulau Karantina Karena Wabah

Jumat , 12 Nov 2021, 07:30 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Muhammad Hafil
Kisah Jamaah Haji Ditinggal di Pulau Karantina Karena Wabah. Foto ilustrasi;   Jamaah haji asal Bugis tempo dulu.
Kisah Jamaah Haji Ditinggal di Pulau Karantina Karena Wabah. Foto ilustrasi; Jamaah haji asal Bugis tempo dulu.

IHRAM.CO.ID,JAKARTA--Penyelenggaraan Ibadah Haji di masa pandemi bukan suatu hal yang baru dilakukan. Ibadah haji di tengah pendemi pernah dilakukan pendiri kota Bandung R.A.A Wiranatakusuma pada 97 tahun yang lalu. Dia menjadi saksi bagaimana perjalanan haji di tengah ketatnya pengawasan kesehatan akibat pandemi kolera.

 

Terkait

Baca Juga

M Imran S Hamdani mengisahkan, bahwa  Wiranatakusuma menuliskan perjalanan hajinya pada tahun 1924. Dia menumpang kapal uap bernama Surakarta.

"Berangkat meninggalkan Bandung pada tanggal 23 Maret dan tiba di Jeddah pada tanggal 13 April 1924," tulis Imran S Hamdani dalam bukunya Ibadah Haji di Tengah Pandemi Covid-19 Penyelenggaraan Berbasis Resiko.

Sebagai seorang Bupati, dia sangat berempati dengan kondisi jamaah haji yang berangkat bersamaanya. Dia juga turut membantu dua orang dokter kapal, yaitu dokter Palthe dan dokter Polak yang melayani 1.200 jamaah haji.

"Cerita perjalanan beliau juga terdapat dalam buku naik haji di masa silam karya Henri Chambert Lior," katanya.

Wiranatakusuma menceritakan, bahwa dia dengan dokter itu, turut serta memeriksa para penumpang itu setiap pagi. Pada pagi itu mereka ke bawah, ke tempat yang sempit dan tidan sinari cahaya matahari.

"Saya dan petugas kesehatan mendatangi ke tempat orang yang sebanyak itu berbaris-baris," katanya. 

Karena itulah, maka udara dalam tempat itu sangat kotor, padahal di atas geladak berhembusan angin yang bersih dan sejuk. Kapal Surakarta yang ditumpangi berlabuh jauh dari Pesisir kamaran karena pelabuhan tersebut jauh dari bibir pantai.

Seorang dokter dan tenaga administrator yang "bertugas di kamaran naik ke kapal. Keduanya memeriksa kondisi kapal dan jamaah haji tanpa kecuali," katanya.

Kemudian seluruh penumpang kapal diharuskan turun ke darat untuk menjalani pemeriksaan kesehatan dan karantina. Wiranatakusuma sendiri juga menceritakan bagaimana kondisi jamaah haji yang diturunkan dari kapal Surakarta. 

"Maka mulailah kami membongkar penumpang penumpang itu kemudian dimuatkan ke perahu-perahu yang dihela oleh 'stoombarkas' bahasa Belanda yang berarti sampah bermotor itu ke darat," katanya.

Wiranatakusuma melihat dari dekat, bahwa perempuan-perempuan hamil dan orang-orang yang tua menjadi lemah lunglai serta lesu dan letih karena tinggal sekian lama dalam palka kapal yang panas itu. Mereka menanggung dengan sabarnya segala kesusahan yang mesti dijalani yaitu.

Setelah dimuat semua jemaah haji itu ke perahu maka naiklah, dia dengan dokter-dokter bangsa Hindia-Inggris yang memeriksa kondisi kapal penumpang ke atas stoombarkas. Di daratan Wiranatakusuma bertemu dengan seorang dokter lagi, bangsa Hindia Inggris juga, dan seorang dokter perempuan bangsa Hindu yang akan menolong jemaah jemaah perempuan. 

"Pembela membela orang sakit, perempuan bangsa Arab dan Afrika melimbang kian kemari, pakaian mereka kotor." 

"Mayat seorang perempuan Sumatera terbujur di atas tanah di sebelah dokter. Sampai juga ajalnya, tatkala ia naik ke darat telah payah benar maka dibawa orang lah ya dengan usang dan. Pemeriksaan dokter hanya dapat menyatakan kematiannya saja."

"Sekaliannya jamaah-jamaah itu dibuka pakaiannya, dimandikan, dan setelah itu baru mereka boleh pergi ke bangsal karantina. Untuk mandi itu, mereka dapat kain sarung merah ganti kain basahan titik mereka dimandikan dengan air lysol. Ingin saya mengetahui apakah saya akan disuruh mandi demikian pula? "

Wiranatakusuma menceritakan, bahwa jamaah haji yang menderita penyakit menular dan pernah kontak erat tidak diperbolehkan meninggalkan Pulau Kamaran. Peraturan yang sangat ketat untuk mencegah penularan penyakit bagi penumpang kapal dari jemaah haji lainnya saat di tanah suci nanti. 

"Di Kamaran, kami terpaksa meninggalkan seorang kanak-kanak bangsa Madura yang kena semacam penyakit cacar, cacar monyet namanya dan atas perintah dokter-dokter karantina kakak-kakak anak itu mesti pulang tinggal bersama-sama."

Wiranatakusuma menyampaikan, bahwa  kakaknya itu meminta kepadanya agar disertakan ikut berlayar ke Jeddah. Namun apa daya dokter tidak mengizinkan nya untuk ikut.

"Kakaknya beribah-ibah kepada saya membicarakan supaya ia boleh pergi berlayar ke Judah (Jeddah) dengan kapal Surakarta itu akan tetapi, dokter-dokter itu tak mau sedikit juga mengubah niatnya," katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini