Berhaji Moderat Seperti yang Dicontohkan Rasulullah

Selasa , 16 Nov 2021, 08:52 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Esthi Maharani
Rasulullah SAW. Ilustrasi
Rasulullah SAW. Ilustrasi

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Nabi Muhammad SAW merupakan orang yang paling seimbang dan moderat dalam menjalankan ibadah hajinya. Moderat dimaksud di sini adalah, Nabi Muhammad bisa mengurus diri sendiri dan orang lain serta dapat menunaikan hak jasmani dan rohani.

 

Terkait

"Sikap moderat dan seimbang merupakan sifat pertengahan yang menjadi jalan agama ini," tulis Faishal bin Ali Al Bu'dani dan Dr.Badr bin Nashir Al Badr dalam bukunya "Perjalanan Haji Nabi Shallallahu alaihi wasallam dan Salafush Shalih"

Rasulullah bersabda, "Hendaklah kalian tetap memegang teguh petunjuk yang lurus (beliau mengulanginya sebanyak tiga kali) sebab siapa yang memaksakan diri dalam urusan agama maka ia akan memenuhi kesulitan."

"Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang shahih," katanya.

Dalam hadits di atas, terlihat dengan jelas bahwa dalam urusan agama pun tidak boleh berlebihan dan memaksakan diri.  Rasulullah SAW pernah menegur tiga orang yang ingin menghabiskan waktu dan tenaganya hanya untuk beribadah.

Orang pertama ingin sholat sepanjang malam tanpa tidur sekejap pun dan orang kedua ingin berpuasa sepanjang hari. Adapun orang yang ketiga ingin beribadah saja sepanjang hidup dan tidak ingin menikah.

"Karena memandang pernikahan dapat menghalanginya beribadah," katanya.

Ketiganya pun mendapat teguran dari Rasulullah SAW. Padahal jika dilihat niatnya yang ingin mereka kerjakan adalah suatu yang baik dan mulia, yaitu beribadah yang mendatangkan pahala.

Mereka berpendapat, bahwa Rasulullah SAW yang telah diampuni dosa-dosanya di waktu lampau dan akan datang itu rajin ibadahnya, seperti yang diceritakan oleh istri-istri beliau. Jadi, mereka beranggapan bahwa diri mereka yang tidak mendapat jaminan ampunan harus jauh lebih banyak beribadahnya.

Lantas, mengapa mereka justru mendapat teguran bukan pujian?

Allah SWT menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna. Salah satu bentuk kesempurnaan itu adalah manusia diberi rasa kantuk dan lelah sebagai alarm alami pertanda harus beristirahat.

Selain itu manusia juga makhluk sosial yang sangat membutuhkan manusia lainnya. Ada hak-hak jasadiah, rohaniah dan sosial yang harus dipenuhi secara berimbang.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini