Saudi Temukan Kasus Omicron, Kebijakan Umroh Belum Berubah

Kamis , 02 Dec 2021, 17:00 WIB Reporter :Zahrotul Oktaviani/ Redaktur : Esthi Maharani
Jamaah Umroh melakukan tawaf selama musim pandemi Covid-19.
Jamaah Umroh melakukan tawaf selama musim pandemi Covid-19.

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Konsul Jenderal Republik Indonesia (Konjen) RI Jeddah Eko Hartono menyampaikan, Kerajaan Arab Saudi telah mengumumkan temuan satu kasus Omicron. Sampai berita ini dibuat, belum ada perubahan terkait kebijakan umroh.

 

Terkait

"Sejauh ini belum ada perubahan kebijakan terkait umroh. Persiapan terus dilakukan," kata dia saat dihubungi Republika, Kamis (2/12).

Baca Juga

Ia menyebut kasus tersebut ditemukan bermula ketika seorang warga negara Saudi baru kembali dari sebuah negara di Afrika Utara. Warga negara ini lantas terdeteksi positif Covid-19 dengan varian Omicron.

Yang bersangkutan, lanjut Eko, langsung dilakukan isolasi. Otoritas terkait juga bergerak melakukan pelacakan atau tracing.

Sebelum diumumkannya temuan tersebut, Kerajaan Saudi disebut telah membuat kebijakan melarang masuknya orang-orang dari wilayah negara-negara di Afrika bagian selatan. Beberapa di antaranya seperti Afrika Selatan, Namibia, Lesotho, Malawi dan Mozambik.

"Kerajaan Saudi juga melarang warga negara saudi untuk bepergian ke negara-negara tersebut," ucap Konjen Eko.

Terkait pertemuan terakhir antara pihak Saudi dengan Direktur Jenderal PHU Kementerian Agama Hilman Latief, ia menyebut tidak ada catatan khusus yang disampaikan terkait persiapan keberangkatan jamaah umrah.

"Tidak ada catata khusus, cuman, mereka mengharapkan para jamaah mentaati betul prokes, termasuk sertifikat vaksin," lanjutnya.

Setelah pertemuan tersebut, pihak KJRI masih terus melakukan pertemuan dan pembahasan teknis dengan Saudi. Utamanya, memastikan sertifikat vaksin bisa terbaca di aplikasi Tawakkalna milik Saudi.

Untuk proses integrasi data dari PeduliLindungi dan Tawakkalna, Konjen Eko menyampaikan sudah sempat dilakukan uji coba. Namun, sampai saat itu masih belum berhasil.

"Sudah diuji coba, tapi belum berhasil. Data kita masih belum terbaca di sini. Ini yang menjadi hambatan, semoga bisa segera teratasi," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini