Rabu 22 Dec 2021 16:06 WIB

Rais Aam Ajak Renungkan Nilai Trilologi Ukhuwah

Trilologi Ukhuwah yakni ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah

Rep: Muhyiddin/ Red: Esthi Maharani
Presiden Joko Widodo (kedua kiri) bersama Wakil Presiden Ma
Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Presiden Joko Widodo (kedua kiri) bersama Wakil Presiden Ma

IHRAM.CO.ID, LAMPUNG TENGAH -- Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar mengajak kepada masyarakat Indonesia, khususnya kepada warga NU untuk merenungkan nilai-nilai  yang telah diwariskan para pendahulu, yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan internal umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), dan ukhuwah insaniyah/basyariyah (persaudaraan kemanusiaan).

"Marilah kita renungkan juga nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh para pendahulu kita dalam bingkai trilogi ukhuwah, yakni ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah/basyariyah. Kita bisa tambahkan juga ukhuwah nahdliyah di dalamnya," ujar dia dalam pembukaan Muktamar Ke-34 NU di Pondok Pesantren Darussa'dah, Lampung Tengah, Rabu (22/12).

Menurut Kiai Miftach, nilai-nilai itu bisa menjadi cerminan moral yang prima, agar dampak negatif pergeseran tatanan dunia tidak begitu berpengaruh dalam perjalanan anak bangsa di era Revolusi Industri 4.0, serta dalam rangka meraih manfaat bonus demografi. Dia pun berharap, bonus demografi bukan justru menjadi musibah demografi.

"Kalau era Revolusi Industri 4.0 dianggap menjadi tanda meningkatnya peradaban kemanusiaan, maka kita harus mengimbanginya dengan 4G," ucap Kiai Miftach. .

 

Maksud dari 4G itu adalah grand idea, grand gesign, grand strategy, dan grand cintrol. Grand idea yaitu, visi-misi Nahdlatul Ulama sebagai instrumen untuk menyatukan langkah, baik ulama struktural maupun kultural. Grand design berupa program-program unggulan yang terukur.

Grand strategy dengan mengintensifkan penyebaran inovasi yang terencana, terarah dan dikelola dengan baik, serta distribusi kader-kader terbaik NU ke ruang-ruang publik yang tersedia. Sedangkan grand control adalah sistem dan gerakan NU untuk bisa melahirkan garis komando secara organisatoris dari PBNU sampai kepengurusan di tingkat anak ranting.

Selain itu, Kiai Miftach juga menegaskan bahwa Kekuatan jam’iyah Nahdlatul Ulama sangatlah besar. Tapi, kata dia, selama ini banyak warga NU yang hanya memosisikan diri sebagai jamaah, belum berjam’iyah atau menjadi bagian dari organisasi NU.

"Inilah yang perlu kita jam’iyahkan. Jangan sampai nantinya warga tercerai berai hanya karena kepentingan-kepentingan sesaat. Mereka harus mengikuti satu komando, yang dikomando dari PBNU dan didukung oleh para mustasyar," kata dia.

Menurut Kiai Miftach, men-jam’iyah-kan jamaah dengan segala potensinya yang berkekuatan raksasa ini, menjadi pekerjaan rumah terpenting dari sekian pekerjaan rumah yang lain.

"Sebab, potensi raksasa ini, kalau tidak dikelola dengan baik dan benar, justru akan menjadi beban dan terpecah belah. Menjadi bulan-bulanan dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok lain," jelas dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement