Arab Saudi Berencana Tambah 8.000 Kilometer Jalur Kereta Api

Kamis , 13 Jan 2022, 20:44 WIB Reporter :Mabruroh/ Redaktur : Ani Nursalikah
Kereta api pertama akan menghubungkan Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi. Jalur kereta api tersebut membentang sepanjang 139 kilometer.  Arab Saudi Berencana Tambah 8.000 Kilometer Jalur Kereta Api
Kereta api pertama akan menghubungkan Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi. Jalur kereta api tersebut membentang sepanjang 139 kilometer. Arab Saudi Berencana Tambah 8.000 Kilometer Jalur Kereta Api

IHRAM.CO.ID, RIYADH -- Menteri Investasi Arab Saudi Khalid Al-Falih mengatakan berencana menambah lebih dari tiga kali lipat ukuran jaringan kereta api dari sebelumnya. Kementerian mengatakan akan ada tambahan 8.000 kilometer jalur baru.

 

Terkait

“Kereta api baru akan melintasi Kerajaan dan menambah jaringan yang sudah kita miliki,” kata Khalid Al-Falih kepada Future Minerals Forum di Riyadh, dilansir dari Arab News, Kamis (13/1/2022).

Baca Juga

Al Falih mengatakan, saat ini ada sekitar 3.650 Km jalur di jaringan kereta api Saudi, dalam tiga jalur. Salah satunya jalur Utara-Selatan sepanjang 2.750 Km membentang dari Riyadh ke perbatasan dengan Yordania, dan memiliki jalur pengumpan ke operasi penambangan mineral di utara Kerajaan.

Kemudian jalur Riyadh-Dammam membentang 450 Km dari ibu kota ke pantai timur. Selanjutnya, jalur berkecepatan tinggi Haramain sepanjang 450 Km menghubungkan kota-kota suci Makkah dan Madinah melalui Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah dan Kota Ekonomi King Abdullah di utara.

Al-Falih juga mengatakan kementeriannya sedang mengerjakan undang-undang investasi baru yang akan menjawab kebutuhan investor domestik dan internasional. Undang-undang itu rencananya akan diberlakukan tahun ini dan akan menambah reformasi peraturan dan peradilan lainnya yang diperkenalkan oleh Kerajaan.

“Semoga segera,” kata Al-Falih.

Pada tahun lalu, Arab Saudi mengatakan akan memberi perusahaan asing hingga akhir 2023 untuk mendirikan kantor pusat di Kerajaan atau berisiko kehilangan kontrak pemerintah. Pada Oktober disebutkan Kerajaan telah melisensikan 44 perusahaan internasional untuk mendirikan kantor pusat regional di Riyadh.

Future Minerals Forum adalah acara khusus yang mempertemukan para menteri, organisasi, dan pemimpin pertambangan dari lebih dari 30 negara. Acara diselenggarakan oleh Kementerian Perindustrian dan Sumber Daya Mineral Saudi.

Acara ini bertujuan menyoroti peran pertambangan dalam Visi Saudi 2030 setelah pemerintah mengidentifikasinya sebagai pilar ketiga ekonomi Kerajaan. Menteri Energi Pangeran Abdulaziz bin Salman mengatakan kepada forum bahwa transisi dari bahan bakar fosil ke energi bersih itu rumit, dan dunia harus fleksibel untuk menghindari mengorbankan keamanan energi.

“Transisi energi perlu dipikirkan dengan hati-hati,” kata Pangeran Abdulaziz.

“Ini mungkin berakhir dengan lompatan ke masa depan, sayangnya masa depan yang tidak diketahui. Kita tidak boleh kehilangan keamanan energi demi aksi publisitas,” tambahnya.

Pangeran Abdulaziz juga mengatakan Kerajaan akan memproduksi dan mengembangkan uranium. Arab Saudi akan segera menerbitkan strategi energinya, dan berada di posisi yang tepat untuk menjadi produsen hidrogen "hijau" termurah.

“Biarkan saya menjadi sangat spesifik tentang hal itu, kami memiliki sejumlah besar sumber daya uranium yang ingin kami eksploitasi dan kami akan melakukannya dengan cara yang paling transparan, kami akan membawa mitra,” kata Pangeran Abdulaziz.

 

https://www.arabnews.com/node/2003401/business-economy

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini