Travel Umroh Harus Cermat Merespon Kebijakan Arab Saudi yang Selalu Berubah

Selasa , 25 Jan 2022, 12:48 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Muhammad Hafil
Travel Umroh Harus Cermat Merespon Kebijakan Arab Saudi yang Selalu Berubah. Foto: Jamaah umroh berjalan di luar al-Haram Sharif di kota suci Mekah, Rabu 27 Desember 2006.
Travel Umroh Harus Cermat Merespon Kebijakan Arab Saudi yang Selalu Berubah. Foto: Jamaah umroh berjalan di luar al-Haram Sharif di kota suci Mekah, Rabu 27 Desember 2006.

IHRAM.CO.ID,JAKARTA--Penyelenggara perjalan ibadah umroh (PPIU) perlu memperhatikan betul regulasi yang ada di Arab Saudi. Karena sampai saat ini banyak regulasi berubah-ubah yang bisa berdampak kepada kenyamaan jamaah dalam beribadah.

 

Terkait

"Di awal pembukaan umroh new normal kedua ini saya pikir penyelenggara umroh PPIU harus betul-betul mencermati perubahan-perubahan yang ada terkait regulasi Saudi," kata Wakil Ketua Umum Afiliasi Mandiri Penyelenggara Umroh Haji (Ampuh), Tri Winarto, Selasa (25/1/2022).

Baca Juga

Menurutnya yang perlu diperhatikan betul oleh para penyelenggara perjalanan ibadah umroh yaitu terkait dengan karantina. Karena kebijakan otoritas penerbangan Arab Saudi (GACA) dan Kementerian Haji selalu berbeda-beda.

"Terutama terkait dengan karantina di awal saja tidak lama persoalan karantina terkait dengan statement GACA dan Kementerian Haji juga berubah-ubah," ujarnya.

Untuk itu, dia menyarankan para pemilik travel yang membawa jamaah, harus cermat memperhatikan semua kondisi di Arab Saudi. Terutama perubahan-perubah pada regulasi yang dikeluarkan pihak Arab Saudi.

"Makanya sekali lagi saya bilang penyelenggara umrah dalam hari ini harus cermat dan lihat betul terkait dengan semua mekanisme yang terjadi," katanya.

Karena kata dia, jika penyelenggara umroh tidak memperhatikan betul terkati perubahan ini akan banyak terjadi perbedaan pendapat, antara maskapai dan penyelenggara maupun dengan jamaah.

"Sebabkan kalau lengah tidak dikontrol dengan baik airline yang kita beli tiketnya juga karantinanya pasti terjadi misscom," 

Tri menceritakan, bahwa dia juga pernah menyampaikan, ketika saat karantina itu di Saudi Audi dihandle oleh airline. Akan tetapi ada cara manakala ada persoalan kita bisa mengaktifkan muthawif kita.

"Yang notabennya kita bayar melalui muasasah untuk pendampingan mulai sejak kedatangan," katanya.

Sehingga ketika ada persoalan-persoalan seperti persoalan kurang makan dan lain sebagainya saat di karantina itu bisa di atasi. Artinya pemilik travel yang harus aktif dalam mengumpulkan semua informasi demi kenyamaan jamaah.

"Saya rasa kalau kita mencermati tidak ada yang sulit, seperti yang saya kerjakan, Insya Allah karantina di Saudi di Madinah sudah nggak ada masalah, senang," katanya.

Karena sebetulanya, kata dia yang tidak kondusif untuk umroh di Indonesia. Untuk itu Pemerintah perlu terus meningkatkan pelayanannya.

"Justru di Indonesianya ini yang tidak kondusif untuk umroh," katanya.

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini