Separuh Warga Gaza Hidup di Bawah Garis Kemiskinan

Rabu , 26 Jan 2022, 19:00 WIB Reporter :Andrian Saputra/ Redaktur : Agung Sasongko
 Warga Palestina berjalan di sepanjang Jalan Al-Baali di samping puing-puing rumah yang rusak parah akibat serangan udara selama perang 11 hari antara Israel dan Hamas, kelompok militan yang menguasai Gaza, di Beit Hanoun, Jalur Gaza utara, Rabu, 16 Juni 2021. Sejak 2008, lebih dari 4.000 warga Palestina tewas dalam empat perang, menurut PBB.
Warga Palestina berjalan di sepanjang Jalan Al-Baali di samping puing-puing rumah yang rusak parah akibat serangan udara selama perang 11 hari antara Israel dan Hamas, kelompok militan yang menguasai Gaza, di Beit Hanoun, Jalur Gaza utara, Rabu, 16 Juni 2021. Sejak 2008, lebih dari 4.000 warga Palestina tewas dalam empat perang, menurut PBB.

IHRAM.CO.ID,  GAZA -- Setengah dari 2,3 juta penduduk Gaza dilaporkan hidup di bawah garis kemiskinan. Demikian laporan Lembaga HAM, Euro-Mediterranean Human Rights Monitor

 

Terkait

"Kondisi itu sebagai akibat dari 16 tahun blokade Israel yang diberlakukan di daerah kantong pantai," demikian laporan LSM yang didirikan oleh pembela hak asasi manusia Gaza Ramy Abdu itu

Baca Juga

Seperti diketahui, pada tahun 2006, Israel memberlakukan pengepungan ilegal di daerah kantong pantai ketika Hamas, sebuah kelompok Islam Palestina, memenangkan pemilihan umum di Wilayah Palestina.  Keberhasilan pemilihan mereka mengakibatkan bentrokan dengan saingan dari Fatah, gerakan yang menjalankan Otoritas Palestina (PA).

Israel memperketat blokadenya terhadap Gaza setelah Hamas secara paksa mengambil alih wilayah itu dari Fatah pada 2007. "Kebijakan hukuman kolektif Israel terhadap penduduk Gaza masih konsisten, dengan cara yang jelas menunjukkan niat Israel untuk menimbulkan kerugian materi dan moral yang besar pada penduduk Gaza," kata laporan itu.

Dia menambahkan bahwa krisis kemanusiaan di Gaza telah berlipat ganda di tengah blokade. Pada 2005, sebelum pengepungan Israel, tingkat pengangguran sekitar 23,6 persen, sementara pada akhir 2021 mencapai 50,2 persen dan menjadi salah satu tingkat pengangguran tertinggi dunia.