Jumat 18 Mar 2022 11:54 WIB

UEA Ingin Jalin Kerja Sama Keamanan Energi dengan Rusia

UEA menolak menggunakan produksi cadangan untuk membantu menahan harga minyak.

Rep: Mabruroh/ Red: Ani Nursalikah
Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab Sheikh Abdullah bin Zayed Al-Nahyan. UEA Ingin Jalin Kerja Sama Keamanan Energi dengan Rusia
Foto: Reuters
Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab Sheikh Abdullah bin Zayed Al-Nahyan. UEA Ingin Jalin Kerja Sama Keamanan Energi dengan Rusia

IHRAM.CO.ID, ABU DHABI -- Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) Sheikh Abdullah bin Zayed Al-Nahyan mengatakan UEA ngin bekerja sama dengan Rusia dalam meningkatkan keamanan energi global. Pernyataan ini disampaikannya dalam kunjungan ke Moskow pada Kamis (17/3/2022).

Invasi Rusia ke Ukraina telah menarik serangkaian sanksi Barat dan mengganggu pasar energi global, menyoroti eksportir energi Teluk, seperti UEA dan Arab Saudi karena konsumen mencari pasokan untuk menggantikan minyak Rusia. Produsen OPEC Arab Saudi dan UEA sejauh ini menolak permintaan AS untuk menggunakan kapasitas produksi cadangan mereka untuk membantu menahan harga minyak.

Baca Juga

Arab Saudi dan UEA mengatakan mereka berkomitmen pada pakta produksi di bawah aliansi OPEC+, yang mencakup Rusia. “Penting untuk menjaga stabilitas pasar energi dan makanan,” kata menteri Emirat dalam konferensi pers bersama yang disiarkan televisi dengan timpalannya dari Rusia Sergei Lavrov.

"Kami menyambut semua upaya mediasi dalam krisis Ukraina. UEA siap untuk terlibat dengan para pihak untuk memperkuat peluang bagi resolusi damai," kata Sheikh Abdullah dilansir dari Arab News, Jumat (18/3/2022).

 

UEA telah mencoba untuk berjalan di antara Barat dan Rusia, yang juga telah memperdalam hubungan dengannya. Mereka abstain dalam pemungutan suara Dewan Keamanan PBB baru-baru ini, yang diveto oleh Moskow, mengutuk invasi tersebut. Sheikh Abdullah mengatakan dia juga akan membahas Iran, Suriah dan Irak selama pembicaraannya di Moskow

Rusia tampaknya minggu ini telah mundur dari pandangan sebelumnya bahwa sanksi Barat merupakan halangan untuk menyelamatkan pakta nuklir 2015 antara kekuatan global dan Iran tepat ketika kesepakatan tampak dekat pada pembicaraan Wina.

Sementara negara-negara Teluk Arab telah menyuarakan dukungan untuk pembicaraan tersebut. Mereka juga mendesak kekuatan global untuk mengatasi kekhawatiran regional atas program rudal balistik Iran dan jaringan proksi, termasuk di Yaman, Irak dan Lebanon.

 

https://www.arabnews.com/node/2044396/middle-east

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement