Jumat 18 Mar 2022 19:45 WIB

Jejak Masjid Bersejarah di Ukraina

Islam secara resmi diperkenalkan ke Ukraina ketika Golden Horde memeluk Islam.

Rep: Mabruroh/ Red: Agung Sasongko
Masjid ar-Rahma, Ukraina.
Foto:

Tiga, Masjid Sultan Suleiman, Mariupol

Salah satu masjid paling berornamen di Ukraina, bangunan ini terletak di tepi Laut Azov di kota Mariupol. Masjid ini dibangun Sultan Suleiman dengan mengawinkan gaya arsitektur Ottoman dan gaya Tatar lokal.

Selama invasi Rusia baru-baru ini ke Ukraina, masjid tersebut menjadi subyek laporan yang tidak akurat bahwa masjid telah dirusak oleh tembakan Rusia. Pejabat masjid kemudian mengkonfirmasi bahwa bom itu jatuh 700 meter dari kompleks yang sebenarnya dan bukan di masjid itu sendiri.

Dikatakan terinspirasi oleh desain Masjid Suleymaniye Istanbul sendiri, wisatawan dan jamaah juga dapat menghargai banyak fitur air bangunan.

Dibiayai oleh pengusaha Turki Salih Cihan, masjid dibuka untuk jamaah pada 2007 dan imamnya ditunjuk oleh Direktorat Urusan Agama Turki.

Empat, Masjid Ar Rahma, Kyiv 

Masjid pertama yang dibangun khusus di ibukota Ukraina dibuka pada 2001, dengan kompleks yang diperluas, termasuk sebuah sekolah, dibuka pada 2011. Dirancang untuk menawarkan ruang sholat hingga 3.000 jamaah, masjid ini memiliki luas 3.200 meter persegi di tiga aula, dengan menara yang membentang 27 meter ke langit. 

Tempat ibadah ini dibangun di lereng Gunung Schekavitsa, di lingkungan Tartarka di mana komunitas Tartar Nizhny Novgorod telah hidup sejak 1840. 

Komunitas awal ini biasa berdoa di rumah imam setempat tetapi pada 1913, gubernur lokal Mikhail Sukovkin telah meletakkan batu fondasi untuk masjid pertama yang dibangun khusus di Kyiv di Jalan Gogolivska. 

Namun, dekade perang, revolusi dan birokrasi menunda penyelesaiannya dan konstruksi yang sebenarnya baru dimulai pada 1994, setelah runtuhnya Uni Soviet.

Lima, Masjid Katedral Kharkiv, Kharkiv 

Dibangun pada 2006, Masjid Katedral Kharkiv berada di lokasi masjid sebelumnya yang dibangun pada 1906, yang dihancurkan oleh Uni Soviet pada 1936. Populasi Muslim kota terdiri dari keturunan tentara Tatar dan Bashkir yang dikerahkan ke daerah tersebut selama Perang Rusia-Turki 1877 dan memilih untuk tetap di sana.

Selama pemerintahan Stalin, para pejabat Komunis mengklaim bahwa masjid itu menghalangi aliran sungai Lopan dan oleh karena itu perlu disingkirkan. Tetapi kemudian, perumahan- perumahan mulai dibangun di daerah itu sebagai gantinya. 

Pada 1999, dimulai kembali pembangunan masjid di lokasi yang sama dan menggunakan desain arsitektur yang sama, sebagai penghormatan terhadap aslinya.

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement