Masalah Haji, Asbihu NU Sampaikan Usulan Penting pada Jokowi

Senin , 27 Jun 2022, 15:12 WIB Reporter :Muhyiddin/ Redaktur : Muhammad Hafil
Masalah Haji, Asbihu NU Sampaikan Usulan Penting pada Jokowi. Foto: Jamaah calon haji Kota Sorong berdoa sebelum dilepas oleh Wali Kota Sorong di kantor Wali Kota Sorong, Papua Barat, Senin (27/6/2022). Sebanyak 108 jamaah calon haji kloter 17 gelombang kedua dilepas oleh Wali Kota Sorong untuk selanjutnya berangkat menuju tanah suci melalui embarkasi Makassar.
Masalah Haji, Asbihu NU Sampaikan Usulan Penting pada Jokowi. Foto: Jamaah calon haji Kota Sorong berdoa sebelum dilepas oleh Wali Kota Sorong di kantor Wali Kota Sorong, Papua Barat, Senin (27/6/2022). Sebanyak 108 jamaah calon haji kloter 17 gelombang kedua dilepas oleh Wali Kota Sorong untuk selanjutnya berangkat menuju tanah suci melalui embarkasi Makassar.

IHRAM.CO.ID, JAKARTA – Wakil Ketua Umum Asosiasi Bina Haji dan Umrah Nahdlatul Ulama (Asbihu NU), KH Hafidz Taftazani menyampaikan usulan penting kepada Presiden Jokowi terkait dengan persoalan haji. Setidaknya ada dua usulan yang harus disampaikan oleh Jokowi jika bertemu dengan Raja Salman bin Abdul Azis.

 

Terkait

Menurut dia, hal ini sangat penting karena menyangkut nasib masa depan ratusan ribu jamaah haji Indonesia pada khususnya serta jamaah haji dunia pada umumnya.

Baca Juga

"Usulan pertama jangka pendek, yaitu menukar Mina (muaisim) dengan yang lebih dekat ke Jumarot," ujar Kiai Hafidz, Senin (27/6/2022).

Karena, menurut dia, jamaah Indonesia sudah 40 tahun lebih menempati tenda Mina (muaisin) yang letaknya sangat jauh, letaknya berada paling jauh di belakang gunung (muaisin). Meskipun sudah dibikin terowongan, kata dia, tetep saja masih jauh.

“Hal ini perlu diusulkan oleh Presiden Jokowi supaya jamaah Indonesia bisa bergantian dengan jamaah dari negara lain yang letaknya di tengah, karena jamaah Indonesia dari segi fisik kan lebih kecil jika dibanding jamaah dari negara Eropa. Sehingga nanti orang kita tempatnya tidak jauh lagi," ucap dia.  

Ketua Dewan Pembina Asosiasi Penyelenggaraan Haji Umrah dan Inbound Indonesia (Asphurindo) ini menjelaskan, Indonesia sudah waktunya menempati posisi di depan atau di tengah. Karena, menurut dia, jamaah Indonesia dari segi fisik juga masih kalah besar jika dibandingkan dengan jamaah dari Eropa maupun Timur Tengah.

Usulan kedua adalah usulan jangka panjang. Dalam hal ini, menurut dia, Presiden Jokowi harus meminta kepada pemerintah Saudi untuk mengganti tenda di Mina, khususnya di antara dua gunung (ma bainal jabalain), dengan bangunan bertingkat yang modern.

Dengan demikian, kata dia, tenda Mina akan mampu memuat jamaah lebih banyak lagi dan antrian jamaah haji juga bisa lebih pendek.

"Bagaimana jika diusulkan agar kemah-kemah diganti dengan gedung bertingkat agar menampung jamaah lebih banyak dan lebih dekat, tentunya didukung dengan fasilitas modern. Saat ini kan tempat lempar jumroh sudah bagus dan arsitek bangunnya juga lebih dekat," kata Lulusan Universitas Ummul Quro Makkah ini.

Pria yang sudah puluhan tahun mengirim jamaah haji dan umrah ke Arab Saudi ini juga menjelaskan bahwa pada tahun 70-an kondisi Mina pernah dikelola oleh warga atau swasta. Saat itu, kata dia, Mina dipenuhi dengan bangunan bergedung dan bertingkat.

Namun, lanjut dia, sejak diambil alih oleh pemerintah Arab Saudi, kondisi Mina sudah tampak penuh dengan ribuan tenda para jamaah haji dari berbagai penjuru dunia.

"Selama ini pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama atau yang lain sudah menyampaikan usul supaya Mina dibangun, namun belum terealisasi. Semoga jika yang menyampaikan Presiden Jokowi langsung dengan Putra Mahkota atau Raja dapat terealisasi,” jelas dia.

“Usulan ini pasti akan di terima jika yang menyampaikan Presiden Jokowi  langsung kepada Raja Salman,” tutupnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini