Operasional Armada Bus Shalawat Dipindahkan ke Muzdalifah Saat Puncak Haji

Selasa , 05 Jul 2022, 19:58 WIB Redaktur : Nashih Nashrullah
Ilustrasi bus shalawat. Pengalihan shalawat untuk puncak haji Armuzna merupakan kebijakan Arab Saudi
Ilustrasi bus shalawat. Pengalihan shalawat untuk puncak haji Armuzna merupakan kebijakan Arab Saudi

Oleh A Syalaby Ichsan, dari Makkah, Arab Saudi 

 

Terkait

IHRAM.CO.ID, MAKKAH – Sekitar dua ratus armada bus shalawat yang biasa mengantar jamaah haji Indonesia ke Masjidil Haram dihentikan operasionalnya sejak 4 Juli/5 Dzulhijjah berdasarkan kebijakan Pemerintah Arab Saudi. Armada bus tersebut akan dipindahkan ke pool Muzdalifah.

Baca Juga

Kepala Seksi Transportasi Daker Makkah PPIH Arab Saudi Asep Subhan menjelaskan, pihaknya bersama otoritas Arab Saudi sudah membuat skema layanan transportasi untuk melayani jamaah saat Armuzna.

"Mobil berangsur-angsur dipindahkan dari pool Muzdalifah dan secara otomatis, angkutan bus shalawat dihentikan sementara sampai nanti tanggal 13 Dzulhijjah," jelas dia di Makkah, Arab Saudi, Senin (4/7/2022).

Dia menjelaskan, pergerakan jamaah saat puncak Arafah mulai 8 Dzulhijjah sudah masuk dalam skenario Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi. Jamaah akan bergerak dari Makkah menuju Arafah. Kemudian, mereka kembali dengan rute Muzdalifah. Setelah mabit sebentar, jamaah diantar ke Mina untuk melontar Jamarat untuk kemudian pulang ke Makkah.

Armada bus pun disiapkan untuk mengantar pergerakan jamaah tersebut. Jamaah diperkirakan mulai berangkat dari Makkah menuju Arafah pada tujuh pagi hingga pukul lima sore Waktu Arab Saudi.

Jadwal tersebut, ujar dia, sudah diatur oleh pihak muassasah sebagai penanggung jawab layanan masyair untuk transportasi. "Pergerakan dari Makkah menuju Arafah ada tiga trip perjalanan, ada tiga trip pagi, siang dan sore," jelas dia.

Menurut dia, pihak muasassah akan menyiapkan 16 bus untuk setiap maktab. Jamaah bisa mengetahui peruntukan bus untuk setiap maktab lewat nomor maktab yang sudah dipasang.

Untuk mengetahui lokasi dan jadwal pemberangkatan, jamaah diharapkan berkoordinasi dengan ketua kloter masing-masing. "Silakan mereka berkordinasi kita berikan kebebasan pada jamaah dan kloter siapa yang gunakan trip pagi, siang atau sore, kita tidak bisa memaksa," ujar dia.  

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini