Ketum Wasliyah: Kemerdekaan adalah Nikmat Allah SWT

Selasa , 16 Aug 2022, 19:00 WIB Reporter :Umar Mukhtar/ Redaktur : Agung Sasongko
Petani lereng Gunung Merbabu hormat kepada Sang Merah Putih saat pembentangan kain Merah Putih di lahan pertanian lereng Gunung Merbabu, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (16/5/2022). Kegiatan yang dilakukan petani lereng Gunung Merbabu itu untuk memeriahkan menyambut HUT ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia serta menanamkan jiwa nasionalisme kepada generasi muda.
Petani lereng Gunung Merbabu hormat kepada Sang Merah Putih saat pembentangan kain Merah Putih di lahan pertanian lereng Gunung Merbabu, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (16/5/2022). Kegiatan yang dilakukan petani lereng Gunung Merbabu itu untuk memeriahkan menyambut HUT ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia serta menanamkan jiwa nasionalisme kepada generasi muda.

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Pengurus Besar Al Jam'iyatul Washliyah, KH Dr Masyhuril Khamis menyampaikan, kemerdekaan disebut juga "hurriyah", yang diartikan sebagai kemerdekaan jiwa, rohani dan fisik sehingga seseorang tidak terbelenggu dalam ketakutan apalagi pemaksaan.

 

Terkait

"Kita wajib menyadari bahwa kemerdekaan adalah nikmat Allah SWT, artinya seseorang wajib bersyukur dan mensyukurinya, karena dengan nikmat kemerdekaan itulah seseorang dapat hidup sejahtera rohani dan jasmani," tuturnya.

Baca Juga

Hurriyah, lanjut Kiai Masyhuril, justru menjadi syarat ketika melaksanakan ibadah, seperti sholat dan haji. Sebab tanpa kemerdekaan atau hurriyah, maka tidak ada ketenangan dalam ibadah. "Jadi, untuk menyikapi Kemerdekaan, Islam mengingatkan agar kita membingkainya sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW," ujarnya.

Di antaranya ialah dengan meningkatkan akhlakul karimah (akhlak yang mulia), misalnya tetap menghargai hak dan kewajiban sesama umat, sesama manusia, termasuk hak-hak makhluk lainnya. Selain itu juga tidak boleh berlaku sewenang-wenang, tidak menunjukkan sikap monopoli, rakus dan menindas yang lain.

"Justru kemerdekaan tersebut harus dimaknai sebagai 'hijrah' untuk kemajuan bersama, meninggalkan sifat keterbelengguan untuk merdeka tapi tetap dalam batas nilai-nilai akhlakul karimah, beradab, dan saling menghargai sesama," jelasnya.

Bicara nasionalisme dan pengejawantahannya, Kiai Masyhuril mengingatkan, Allah SWT menitipkan bumi dan isinya kepada hamba-Nya, tentu dimaksudkan agar dikelola dengan baik, adil dan produktif. Sikap melindungi, mencintai dan mengelola dengan baik, sebenarnya merupakan bagian dari sikap nasionalis.

"Sehingga nasionalis harus dimaknai sebagai suatu sikap pembelaan pada negeri yang sudah Allah titipkan pada kita untuk dikelola dan ditata dengan penuh rasa tanggung jawab. Dan kita tidak boleh merasa lebih menguasai, lebih memiliki, sehingga muncul sifat serakah, tamak dan cenderung menghalalkan segala cara untuk memiliki dan mempertahankannya," paparnya.

Dalam Alquran Surah Al-Baqarah ayat 126, Nabi Ibrahim AS mengajarkan bahwa beliau berdoa untuk kemakmuran dan keamanan negerinya. "Artinya, kita diajarkan untuk menyayangi bumi di mana kita berada, negeri di mana kita hidup," katanya.

Allah SWT berfirman, "Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, 'Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian,' Dia (Allah) berfirman, 'Dan kepada orang yang kafir akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.'" (QS Al-Baqarah ayat 126)

Dalam Surah At-Taubah ayat 122, dan Surah Ali Imran ayat 200, makna yang tersirat dari dua surat ini yaitu bahwa sikap pembelaan dan mengawal negara serta memakmurkannya merupakan hal yang penting, misalnya dengan meningkatkan kualitas masyarakat.

"Jadi nasionalisme harus diartikan sebagai sikap patriotisme untuk menaikkan martabat suatu negeri dan penduduknya agar tidak berada dalam penjajahan, keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan," imbuhnya.

Allah SWT berfirman, "Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya." (QS At-Taubah ayat 122)

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini