Komisi Warisan Saudi Survei Laut Merah untuk Temuan Arkeologis

Jumat , 19 Aug 2022, 15:29 WIB Reporter :Zahrotul Oktaviani/ Redaktur : Agung Sasongko
Laut Merah
Laut Merah

REPUBLIKA.CO.ID,JEDDAH -- Komisi Warisan Saudi telah mengumumkan proyek survei dan mengungkap warisan yang terkubur di Laut Merah. Hal ini dilakukan bekerja sama dengan Universitas Sains dan Teknologi Raja Abdullah (KAUST), Universitas Raja Abdulaziz dan Universitas Napoli di Italia.

 

Terkait

Proyek ini akan mencakup survei perairan Laut Merah, dari Umluj hingga Ras Al-Sheikh Hamid, dengan tujuan mencari temuan arkeologis. Adapun aksi ini telah berjalan sejak 13 Juli dan akan berlanjut hingga 5 September.

Baca Juga

Sejauh ini, tim yang terbentuk telah memantau lebih dari 25 lokasi spesifik di sepanjang jalur survei termasuk daerah Ras Al-Sheikh Hamid, Duba, Al-Wajh dan Umluj menggunakan sonar. Sejumlah perangkat yang digunakan akan mengambil peta bawah air dan mosaik, serta foto-foto berkualitas tinggi dari area tersebut.

CEO Saudi Heritage Commission, Dr. Jasir Al-Herbish, mengatakan pengumuman tersebut sejalan dengan kebijakan komisi memberi tahu media, masyarakat umum dan mereka yang tertarik dengan arkeologi, tentang rencana dan upaya yang dilakukan oleh pihaknya.

Dilansir di Arab News, Jumat (19/8/2022), hal tersebut dilakukan bekerja sama dengan lembaga ilmiah dan organisasi internasional, dengan tujuan untuk menemukan situs-situs bersejarah.

Tujuan lain dari inisiatif ini adalah mengembangkan bidang penyelaman arkeologis dan berbagi hasil survei situs bersejarah, untuk mendidik masyarakat tentang daerah di Laut Merah yang kaya dengan warisan budaya. Hal ini sama pentingnya dengan temuan arkeologis di daratan atau tanah kering.

Al-Herbish lantas menyoroti beberapa upaya yang sudah berjalan, seperti pusat khusus untuk perlindungan warisan budaya bawah laut di Laut Merah dan Teluk Arab.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa perairan Laut Merah dan Teluk Arab masih menyimpan banyak rahasia tentang warisan budaya Kerajaan. Komisi itu pun berharap dengan adanya proyek ini akan berkontribusi untuk menemukannya.

“Kami di KAUST Basic Laboratories sedang mengeksplorasi rahasia Laut Merah menggunakan teknologi kelautan canggih dan membangun kemampuan canggih dengan mitra kami,” ujar Wakil Presiden dan Senior Associate KAUST Dr. Najah Ashry.

Area bangkai kapal Umluj sebelumnya telah disurvei, dalam upaya kolaboratif komisi dan tim Italia dari University of Naples pada 2015 dan 2016. Hasilnya, ditemukan bahwa bangkai kapal tersebut berusia lebih dari 100 tahun.

Beberapa temuan lain termasuk gundukan tembikar di sebelah bangkai kapal, ratusan potongan porselen Cina berkualitas tinggi, tempurung kelapa, serta berbagai logam.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini