Mengenal Al-Musahibi, Ulama Alim dan Serbabisa dari Basrah

Rabu , 23 Nov 2022, 22:40 WIB Redaktur : Agung Sasongko
(Ilustrasi) Al-Muhasibi dikenal sebagai sosok ulama yang alim dan serbabisa.
(Ilustrasi) Al-Muhasibi dikenal sebagai sosok ulama yang alim dan serbabisa.

IHRAM.CO.ID, Al-Muhasibi dikenal sebagai sosok ulama yang alim dan serbabisa. Lahir di Basrah pada 165 H/ 781 M, figur yang mempunyai nama lengkap Abu Abdullah al-Harits bin Asad bin Ma’qil al-Hamdani al-Muhasibi itu selain dikenal sebagai seorang sufi, juga terkenal dengan kepakarannya di bidang ilmu fikih dan hadis.

 

Terkait

Kepiawaiannya itu banyak digali dari sederet tokoh terkemuka setelah hijrah ke Kota Baghdad. Di bidang fikih, misalnya, ia berguru kepada Imam Syafi’i, Abu Ubaid al-Qasimi bin Salam, dan Qadli Yusuf Abu Yusuf. Sedangkan, ilmu hadis dipelajarinya dari Syuraih bin Yunus, Yazid bin Haran, Abu an-Nadar, dan Suwaid bin Daud.

Baca Juga

Cakrawala dan wawasannya yang luas turut menyedot perhatian besar terhadap kondisi dan perkembangan aktual di kawasan Baghdad kala itu, mulai dari dinamika politik dan sosial yang berkembang, hingga diskursus ataupun polemik terkait pemikiran teologi.

Ragam pendapat yang dilontarkan oleh pendapat Mutazilah, Syiah, Khawarij, Jabariyah, dan Qadariyah mengundang rasa keprihatinannya. Berdasarkan pengamatannya atas kelompok itu, dia berkesimpulan, latar belakang yang mendasari sebagian besar kalangan itu bukan akhirat, melainkan kesombongan dan motivasi keduniaan.

Berangkat dari titik tolak ini, al-Muhasibi memutuskan terjun ke dunia tasawuf dan memilih beruzlah dari keprofanan (keduniaan). Berbagai konsep dan teori dalam kajian dan praktik tasawuf banyak ditawarkan oleh al-Muhasibi.

Salah satunya adalah takut (al-khauf) dan pengharapan (raja’). Kedua teori itu merupakan pangkal penting untuk instropeksi. Dan, keduanya dapat dilakukan dengan sempurna bila berpegang teguh kepada Alquran dan sunah, terutama memaknai dan meresapi ayat-ayat yang menegaskan janji dan ancaman.

Konsep khauf dan raja’-lah yang kemudian menjadikan al-Muhasibi banyak dikenal oleh para tokoh sufi di masanya, bahkan menjadi inspirasi berharga bagi para pencari hikmah yang hidup di masa berikutnya sebagai peninggalan tak ternilai dari seorang pemuka sufi yang tutup usia pada umur 78 tahun. Tepat pada 242 H/895 M di kota tempat dia bersinggah, Baghdad. 

sumber : Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

 

 

BERITA TERKAIT