Jumat 30 Dec 2022 13:28 WIB

Tiga Nada Marawis

Marawis kini menjadi kesenian yang banyak ditunggu-tunggu warga Indonesia,

Grup marawis saat menghibur anak yatim pada acara buka puasa bersama Republika di Kantor Republika, Jakarta, Sabtu (25/5).
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Grup marawis saat menghibur anak yatim pada acara buka puasa bersama Republika di Kantor Republika, Jakarta, Sabtu (25/5).

IHRAM.CO.ID, Dalam Katalog Pekan Musik Daerah, Dinas Kebudayaan DKI, 1997, terdapat tiga jenis pukulan atau nada, yaitu zapin, sarah, dan zahefah. Pukulan zapin mengiringi lagu-lagu gembira dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Jenis musik ini biasanya digunakan pada saat pentas di panggung, seperti lagu berbalas pantun. Tempo nada zafin lebih lambat dan tidak terlalu mengentak sehingga banyak juga digunakan dalam mengiringi lagu-lagu Melayu.

Pukulan sarah dipakai untuk mengarak pengantin. Sedangkan, zahefah mengiringi lagu di majlas (tampil di atas panggung). Kedua nada itu lebih banyak digunakan untuk irama yang mengentak dan membangkitkan semangat. Dalam marawis juga dikenal istilah ngepang yang artinya berbalasan memukul dan mengangkat. ''Setiap pemain harus belajar memukul gendang untuk pengaturan nada,'' ujar Junaidi, ketua grup Ar Rhotibiyah.

Baca Juga

Di Indonesia, istilah kesenian marawis dikenal luas di masyarakat, terutama warga Betawi (Jakarta), Jawa, Sunda, dan lainnya. Bahkan, kelompok masyarakat yang aktif mengembangkan kesenian ini sangat banyak. Di Jakarta sendiri, jumlahnya mencapai puluhan organisasi. Begitu juga dengan daerah-daerah di sekitarnya, seperti Depok, Bekasi, Tangerang, dan Bogor. Karena itu, tak heran bila kemudian banyak pemerintah daerah (pemda) yang menggelar festival marawis.

Marawis kini menjadi kesenian yang banyak ditunggu-tunggu warga Indonesia, khususnya Betawi. Di Kampung Melayu, tepatnya di Panti Asuhan Kampung Melayu, sekelompok anak panti asuhan membentuk kelompok marawis. Meski belum punya nama, Rahmat Hidayat, salah seorang anggota, mengatakan, kelompok marawisnya tetap rajin belajar marawis.

Bagi sebagian orang, seni menjadi pengisi kekosongan jiwa atau hiburan semata. Namun, bagi Rahmat, seni menjadi ladang ibadah terlebih dengan marawis. Dengan bermain marawis, ia bisa bershalawat dan juga berkesenian. ''Anak-anak muda zaman sekarang kan jarang ada yang suka shalawat. Tapi, dengan bermain marawis, shalawat jadi enak,'' ujar Rahmat.

Melalui kesenian ini, Rahmat memiliki harapan yang besar agar marawis terus terjaga dan berkembang. ''Dengan marawis, kita bisa menumbuhkan rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT,'' kata Rahmat.

sumber : Republika

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement