Jumat 27 Sep 2013 19:00 WIB

"Sesuaikan Kecepatan Tawaf dengan Kebugaran"

Rep: Dwi Murdaningsih/ Red: A.Syalaby Ichsan
Jutaan umat muslim melaksanakan Tawaf (mengelilingi Kabah) usai Shalat Subuh di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi
Foto: antara
Jutaan umat muslim melaksanakan Tawaf (mengelilingi Kabah) usai Shalat Subuh di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi

REPUBLIKA.CO.ID, Mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kartono Muhammad  mengingatkan agar jamaah tidak terlalu lelah dan menghemat stamina ketika hendak melakukan wukuf. Ia meminta jamaah tetap menjaga kesehatan selama berada di Tanah Haram.

Jamaah, kata dia, harus mengukur kemampuan fisik terhadap ibadah yang dijalani, apalagi untuk jamaah dengan usia lanjut. Misalnya, ketika melakukan tawaf.

Kecepatan ketika tawaf juga perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan. Jamaah usia lanjut hendaknya tawaf dengan kecepatan pelan. Tawaf sebaiknya jangan dilakukan di siang hari saat terik, namun menunggu saat cuaca tidak begitu panas.

“Jangan terpengaruh dengan jamaah lain, kalau memang tidak bisa cepat, lakukan dengan lambat saja, jangan memaksakan diri,” katanya.

Udara kering di Tanah Suci juga harus diantisipasi dengan penggunaan masker. Umumnya, jamaah yang menderita sakit di sana disebabkan karena dehidrasi (kurang cairan) dan kelelahan. Untuk menjaga stamina tetap sehat, Kartono menyarankan agar jamaah ba nyak minum air zam-zam atau larutan elektrolit serta mengonsumsi buah.

Hal ini penting untuk mencegah dehidrasi. Dehidrasi menjadi penyebab utama jamaah ‘tumbang’ ketika berada di Tanah Suci. Dari tahun ke tahun, kerap kali dijumpai jamaah yang sakit bahkan hingga wafat karena kelelahan dan dehidrasi.

Harian Republika/Khoirul Azwar

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement