Rabu 02 Oct 2013 20:31 WIB

MUI: Haji Cukup Sekali Saja

Perjalanan jamaah calon haji dari Madinah ke Makkah
Foto: Heri Ruslan/Republika Online
Perjalanan jamaah calon haji dari Madinah ke Makkah

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah Prof Ahmad Rofiq mengingatkan kalangan umat Islam bahwa beribadah haji sebaiknya cukup sekali seumur hidup.

"Memang tidak ada larangan orang lebih dari satu kali beribadah haji. Akan tetapi, anjurannya ibadah haji cukup hanya sekali. Yang diwajibkan ya haji hanya sekali saja," katanya di Semarang, Rabu.

Mantan Rektor Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang tersebut menganggap wajar jika ada orang yang mampu, kemudian berulang kali pergi ke Tanah Suci karena merasa "kangen" dengan Rumah Allah.

Apalagi, kata dia, dijanjikan bahwa beribadah di Mekkah akan dilipatgandakan pahalanya sampai 100 ribu kali, sementara beribadah di Madinah bakal dilipatgandakan pahalanya sampai 1.000 kali.

Meski demikian, Rofiq mengingatkan bahwa keinginan untuk pergi ke Tanah Suci lebih dari sekali bagi mereka yang mampu tidak harus diwujudkan untuk beribadah haji, melainkan bisa dengan melakukan umrah.

"Kalau mau, bisa memberangkatkan orang lain untuk berhaji, misalnya tetangganya yang kontribusi dan keilmuannya selama ini dibutuhkan masyarakat. Pahalanya sama dengan berangkat sendiri berhaji," katanya.

Ia menjelaskan ada pula haji "badal", yakni berhaji atas nama orang lain, seperti orang tuanya yang sudah meninggal dan sudah memiliki kewajiban berhaji yang harus dilakukan oleh mereka yang sudah pernah berhaji.

Ditanya tentang fatwa berhaji cukup sekali, ia mengatakan MUI merasa tidak perlu membuat fatwa semacam itu karena anjuran bahwa beribadah haji cukup sekali sudah jelas dan banyak orang yang tahu.

"Saya juga beribadah haji lebih dari sekali, tetapi dalam kapasitas sebagai pembimbing haji. Pembimbing kan harus orang yang sudah berhaji sehingga sudah paham," kata pengajar IAIN Walisongo Semarang itu.

Menurut dia, orang yang berhaji tentu menginginkan menjadi haji yang mabrur yang ditentukan mulai dari proses awal sebelum hingga usai menjalankan ibadah haji, antara lain menggunakan rezeki yang halal.

"Semua syarat dan rukunnya dipenuhi selama menjalankan ibadah haji, kemudian 'output' dan 'outcome' setelah selesai berhaji juga menentukan. Amal dan ibadahnya harus lebih meningkat," katanya.

Selain itu, kata dia, kondisi masyarakat sekitar juga harus diperhatikan, misalnya tetangga kanan dan kirinya yang kesulitan, di samping kemampuannya secara finansial untuk berangkat haji.

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement