REPUBLIKA.CO.ID, JEDDAH -- Konsul Jenderal Afrika Selatan, Ebrahim Edries mengatakan pihaknya menginginkan penambahan kuota haji dari 2.500 menjadi 6.000.
Menurutnya, 6.000 adalah jumlah yang ideal. Afrika Selatan, katanya, akan sangat puas jika permintaan tersebut dipenuhi Penjaga Dua Masjid Suci King Abdullah.
Edries mengatakan, pihak berwenang Afrika Selatan telah berbicara dengan otoritas Saudi mengenai hal itu. Ia mengklaim minoritas Muslim di negara seperti Australia dan Selandia Baru bukanlah sasaran yang tepat pemberlakuan kuota 0,1 persen.
"Mereka diberi angka dasar. Sebagai contoh, populasi Muslim Afrika Selatan mirip dengan Australia dan Selandia Baru, tetapi mereka membawa 14 ribu jamaah haji. Sedangkan kita hanya diperbolehkan 2.500," kata Edries, seperti dilansir Arab News, Sabtu (5/10).
Ia meminta diperlakukan sama seperti Australia dan Selandia Baru. Ia tidak meminta kuota 14 ribu karena mampu memberangkatkan jamaah yang baru pertama kali berhaji setiap tahun. Edries menambahkan warga Afrika Selatan yang melakukan haji 20-50 tahun lalu ingin datang lagi ke Tanah Suci.
Sebanyak 90 persen kuota tersebut, katanya, bisa diisi jamaah yang baru pertama kali berhaji. Sisanya sebanyak 10 persen diisi jamaah yang telah berhaji lebih dari 10 tahun lalu. Saat ini, jamaah yang berangkat haji adalah mereka yang belum pernah menunaikan ibadah haji.
Sebelum menjadi negara demokrasi pada 1994, jamaah haji Afrika Selatan adalah satu-satunya jamaah yang bisa memperoleh visa haji karena Arab Saudi memiliki hubungan diplomatik dengan rezim Apartheid.
Hingga awal 1990-an, hampir 10 ribu jamaah haji datang menunaikan ibadah haji setiap tahun. Setelah 1994, Arab Saudi membuka kedutaan besar di Afrika Selatan dan harus mengatur hal-hal mengenai haji.
"Lalu kami dikenakan peraturan kuota oleh Organisasi Kerjasama Islam (OKI), yaitu 2.500," ujar Edries.
Dikatakannya, Afrika Selatan adalah negara sekuler yang tidak mempunyai organisasi resmi untuk mengatur jamaah haji. Namun, Muslim di sana mendirikan perusahaan 'nonprofit' Dewan Haji dan Umrah Afrika Selatan (SAHUC) untuk mengatur persoalan terkait haji.
Organisasi tersebut tidak memungut biaya kepada jamaah. Idealnya, kata Edries, mereka mendirikan lembaga seperti Tabung Haji dari Malaysia yang menghimpun dana bagi jamaah. "Rencana haji ditentukan masing-masing jamaah. Namun, mereka memerlukan izin dari SAHUC karena adanya sistem kuota," katanya.
Jamaah haji Afrika Selatan mengikuti sejumlah pelatihan sebelum berangkat haji. Hal ini bervariasi di setiap wilayah. Misalnya, di Western Cape, calon jamaah haji mengikuti pelatihan selama dua jam di Masjid setempat setiap pekan selama dua hingga tiga tahun sebelum berangkat haji.
Edries mengatakan Afrika Selatan bermaksud untuk memiliki status pengamat di OKI karena 27 negara Afrika lain sudah menjadi anggota.




