Rabu 09 Oct 2013 13:45 WIB

Tips Bagi Jamaah Haji Penderita Diabetes

Rep: Ani Nursalikah/ Red: Heri Ruslan
Jamaah haji sedang thawaf untuk umrah sunah. (ilustrasi)
Foto: Heri Ruslan/Republika Online
Jamaah haji sedang thawaf untuk umrah sunah. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, DOHA -- Kemitraan Aksi Diabetes (AoD) memberi beberapa panduan bagi penderita diabetes yang akan menunaikan ibadah haji.

Seperti dilansir The Peninsula, Rabu (9/10), jamaah haji harus berkonsultasi dengan dokter sebelum berangkat. Kebanyakan penderita diabetes berusia di atas 40 tahun harus menjalani pemeriksaan jantung untuk memastikan mereka cukup fit.

Penderita diabetes dengan kondisi kesehatan tidak stabil disarankan menunda perjalanan hingga kondisinya stabil. Mereka juga diharuskan membawa sebuah kartu berbahasa Arab dan Inggris berisi informasi mengenai kondisi kesehatan, pengobatan, dosis, alamat dan nomor telepon kerabat atau teman dekat untuk mengantisipasi terjadi komplikasi saat beribadah.

Setelah sampai di Makkah, jamaah haji harus menghindari tempat terbuka yang terekspos sinar matahari untuk menghindari serangan panas. Ketika menjalankan ritual ibadah haji, bawalah payung dan usahakan tidak berjalan kaki tanpa alas kaki.

Rasa kebas di kaki karena diabetes bisa sangat berbahaya karena kaki bisa terbakar tanpa disadari. Hal ini bisa menyebabkan infeksi serius. Penderita diabetes sebaiknya melaksanakan tawaf dan sa'i ketika malam hari.

Sangat penting untuk mengonsumsi air yang banyak secara teratur setiap hari. Jamaah harus membawa permen, gula atau kurma untuk dimakan ketika kadar gula darah turun.

Jamaah penderita diabetes juga harus selalu ditemani orang yang mengetahui kondisi mereka dan bisa diandalkan. Untuk menghindari hipoglikemia, penting untuk memeriksa kadar glukosa darah dan urin secara teratur selama haji.

Penderita diabetes tidak diperkenankan berpuasa. Jika memang harus, puasa sebaiknya dilakukan setelah pulang ke rumah.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement