Jumat 05 Sep 2014 22:18 WIB

Berburu Haji Mabrur (1)

Rep: Hannan Putra/ Red: Chairul Akhmad
Jamaah haji berkumpul di Jabal Rahmah, Padang Arafah, Makkah, Arab Saudi.
Foto: Republika/Yogi Ardhi/ca
Jamaah haji berkumpul di Jabal Rahmah, Padang Arafah, Makkah, Arab Saudi.

REPUBLIKA.CO.ID, Menggapai predikat haji yang mabrur merupakan impian setiap mereka yang datang ke Tanah Suci.

Haji mabrur adalah puncak dari segala ibadah, sebagaimana ia menjadi puncak dari rukun Islam bagi seseorang. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Tiada balasan yang lebih pantas bagi haji yang mabrur, kecuali surga.”(HR Bukhari Muslim).

Lalu, seperti apakah haji mabrur yang bisa mengantarkan seseorang ke dalam surga itu? Menurut KH Ahmad Satori Ismail, haji mabrur tidak bisa lepas dari tuntunan Rasul dalam melaksanakan haji.

Bagaimanapun ikhlas dan khusyuknya seseorang melaksanakan haji, tapi jika menyelisihi tuntunan yang disyariatkan Rasul, tentu bisa mengancam keabsahan hajinya. “Kita harus mengerti ilmu manasik hajinya. Melaksanakan ibadah tanpa mengerti ilmunya tentu saja ditolak,” katanya.

Pembina Bimbingan Haji Bisa Insan Munawwarah itu menyebutkan, banyak faktor yang harus diperhatikan agar bisa mengantarkan seseorang pada derajat haji mabrur. Tidak hanya ilmu-ilmu terkait haji saja yang harus dipahami. Tapi, ilmu-ilmu terkait dengan pelaksanaan haji juga harus dimengerti oleh jamaah haji.

Kiai Ahmad mencontohkan, ketika pergi haji, tentu jamaah haji dihadapkan pada kasus mengqashar dan mengqadha shalat. Bagaimana tata cara pelaksanaan qashar dan qadha shalat, tentu hal tersebut harus dipahami. Demikian juga, dengan tayamum ketika tidak mendapati air dan kasus-kasus fikih lainnya.

Menuju haji mabrur harus dipersiapkan sedari berangkat. Alquran secara jelas menyebutkan, sebaik-baik bekal haji, yakni ketakwaan (QS al-Baqarah [2]: 197). Jadi, memperkuat ruhiyah dan membersihkan jiwa sebelum berangkat haji merupakan suatu kemestian.

“Sebelum berangkat, perbanyak tobat. Karena, bekal haji itu adalah ketakwaan. Jadi, sebelum berangkat, sudah terbiasa untuk takwa, yakni dengan mengikuti perintah dan menjauhi larangan-Nya,” ujarnya memaparkan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement