Selasa 09 Sep 2014 18:51 WIB

Mengenal Nenek Samsiyah, Danpur Asrama Haji Surabaya (1)

Rep: Andi Nurroni/ Red: Damanhuri Zuhri
Katering Haji
Foto: Republika/Natalia Endah Hapsari
Katering Haji

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA—Rombongan demi rombongan calon jamaah haji (calhaj) asal embarkasi Surabaya terbang menuju Tanah Suci. Tanpa pandang bulu, semua harus mengikuti aturan main pemerintah selaku penyelenggara.

Di antaranya, selama sehari semalam, para calhaj harus menjalani pendataan dan pemeriksaan di Asrama Haji Surabaya, daerah Sukolilo, Surabaya.

Selama persiapan di asrama, para calhaj benar-benar diperhatikan asupan makanan dan gizinya. Mereka tak boleh abai, harus makan tiga kali sehari. Berbagai makanan lezat dan sehat dihidangkan panitia secara terjadwal.

Andai para calhaj menyempatkan diri mampir ke dapur asrama, bisa jadi mereka akan memergoki para ibu tengah berjibaku di antara perabot masak serba besar. Para ibu itulah pasukan dapur yang bekerja siang malam demi menjamin kebutuhan makanan para calhaj.

Jumlah mereka 30 orang, terdiri dari 21 perempuan dan sembilan laki-laki. Bertugas sebagai Danpur alias komandan dapur adalah Siti Samsiyah, seorang nenek berusia 72 tahun. Di istananya, dapur seukuran lapangan tenis, nenek Samsiyah ramah menerima Republika, Selasa (9/9).

Duduk alakadarnya di antara alat-alat masak, kami terlibat perbicangan. Samsiyah bercerita, sudah 20 tahun, atau berarti 20 kali musim haji, dia menjadi juru masak di sana. Awalnya, dia diajak saudaranya, seorang pegawai rendahan di Asrama Haji Surabaya.

Meski sebagai kepala dapur, Samsiyah bercerita, dia hanyalah pekerja, seperti ibu-ibu lainnya. Dia dan teman-temannya para ibu harus melamar setiap tahun pada perusahaan catering pemenang tender. Selama tiga tahun terakhir, kata dia, pemenang tender adalah perusahaan catering bernama Nita Jaya.

Meski perusahaan penyedia makanan berganti-ganti, rupanya Nenek Samsiyah selalu direkrut menjadi kepala dapur karena dianggap berpengalaman.

Walapun bersetatus kepala dapur, Samsiyah nyatanya tidak bertindak seperti halnya mandor. Dia tetap berbagi tugas dengan ibu-ibu yang lain, mulai mengupas bawang hingga mengaduk sayur di kuali.

Hanya saja, kepada nenek 12 cucu itulah sang bos catering mempercayakan jaminan rasa dan pilihan menu yang akan dihidangkan.

Menurut Samsiyah, seperti pada umumnya, jadwal makan di Asrama Haji Surabaya  tiga kali dalam sehari, yaitu sarapan, makan siang, dan makan malam.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement