Jumat 07 Nov 2014 16:15 WIB

Keutamaan Arafah (1)

Rep: Hannan Putra/ Red: Chairul Akhmad
Jamaah haji melaksanakan wukuf di Arafah, Arab Saudi.
Foto: Republika/Yogi Ardhi/ca
Jamaah haji melaksanakan wukuf di Arafah, Arab Saudi.

REPUBLIKA.CO.ID, Abdurrahman bin Ya’mur al-Daily telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Al-hajju Arafah, (puncak ibadah haji adalah Arafah). Barangsiapa yang mendapati Arafah sebelum (terbit) fajar, maka dia telah mendapati haji.” (Musnad Al-Humaidy, 11/399).

Di dalam hadis ini terdapat beberapa masalah, di antaranya: Sabda beliau, Al-hajju Arafah, merupakan hukum qath’iy (pasti) bahwa tidak ada haji (yang sah) bagi orang yang tidak berwukuf di Arafah, pada siang maupun pada malam hari. Tetapi bukan berarti bahwa Arafah itu adalah ibadah haji secara utuh (keseluruhan).

Sabda beliau, “Barangsiapa yang mendapati Arafah sebelum (terbit) fajar…”, maksudnya adalah fajar hari Nahar (Idul Adha).

Diceritakan dari Ali RA, “Ketika pada sore hari Arafah, Rasulullah SAW berdiri seraya menghadap ke arah orang-orang, lalu beliau bersabda, “Selamat datang para tamu Allah (beliau mengulanginya tiga kali). Orang-orang yang jika meminta (sesuatu) kepada Allah niscaya Dia akan memberikannya kepada mereka, dan orang-orang yang diberikan pengganti biaya belanjanya di dunia, serta menjadikan setiap satu dirham di akhirat kelak sejuta dirham untuknya. Bukankah aku memberikan kabar gembira bagi kamu sekalian?”

Mereka berkata, “Benar, ya Rasulullah.” Beliau bersabda, “Sebab sesungguhnya pada sore hari ini Allah SWT turun ke langit dunia, kemudian Dia menyuruh para malaikat-Nya pun turun ke bumi. Maka seandainya sebuah jarum dilemparkan, niscaya tidak akan jatuh selain di atas kepala malaikat.”

“Lalu Allah SWT berfirman, ’Wahai malaikat-Ku, lihatlah hamba-hamba-Ku dalam keadaan dekil dan kumal, mereka telah mendatangi-Ku dari ujung-ujung bumi, apakah kamu mendengar apa yang mereka ucapkan?’

“Para malaikat menjawab, ‘Mereka memohon ampunan-Mu, wahai Tuhan.’ Allah berfirman, ‘Aku persaksikan kepada kamu sekalian, bahwa aku telah mengampuni (dosa-dosa) mereka—tiga kali! Maka pergilah dari tempat wukuf kamu sekalian dosa-dosa terdahulu yang telah diampuni.” (Musnad Imam Zaid: 198).

Ali RA juga berkata, “Pada hari Nafar salah seorang sahabat Rasulullah SAW terkena musibah (mati). Lalu beliau memandikannya, mengafaninya, dan menshalatinya. Kemudian dengan wajahnya yang mulia beliau menghadap ke arah kami, lalu bersabda, “Orang suci ini akan menjumpai Allah Azza Wa Jalla tanpa disertai dosa (sama sekali).” (Musnad Imam Zaid: 199).

Disebutkan di dalam Ihya Ulumuddin, Rasulullah SAW bersabda, “Setan tidak pernah tampak sekecil, sejauh, sehina, dan semarah pada hari Arafah. Hal itu tidak lain disebabkan oleh turunnya rahmat dan pengampunan Allah SWT atas dosa-dosa yang besar. Dikatakan, bahwa sesungguhnya di antara dosa-dosa itu terdapat beberapa dosa yang tidak dapat dihapus kecuali oleh wukuf di Arafah.” Ja’far bin Muhammad telah mengisnadkannya kepada Rasulullah SAW.

sumber : Keutamaan Kota Makkah oleh Atiq bin Ghaits Al-Biladi
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement