REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR -- Menunaikan ibadah haji merupakan keinginan setiap umat Muslim. Segala upaya diperjuangkan demi mendaratkan kaki di Tanah Suci, Makkah Al Mukarramah.
Perjuangan ini pun dilakukan seorang veteran dari Kabupaten Pinrang, Massangi Bin Rubu Maddukallang. Pria berusia 93 tahun ini, akhirnya bisa menunaikan ibadah rukun Islam ke lima, di umurnya yang hampir mencapai satu abad.
Massangi Bin Rubu Maddukallang mengatakan, keinginannya berangkat ke Tanah Suci akhirnya bisa terkabul setelah kedua anak Massangi dari dua istri berbeda mengumpulkan dana hasil lahan sawah seluas 40 hektare yang mereka garap.
“Semua sawah saya bagi dua, 20 hektar untuk istri pertama dan 20 hektar untuk istri kedua dan semua hasilnya dikumpulkan oleh kedua anak, lalu mendaftarkan saya tahun 2012,” ungkap Massangi, Ahad (23/8).
Sayang berangkatnya Massangi ke Tanah Suci akan mendapat kesulitan ketika berada di sana. Pasalnya Massangi tidak bisa menggunakan bahasa indonesia dengan baik.
Dalam kegiatan sehari-hari, Massangi berbincang memakai bahasa Bugis Pattinjo. Bahasa ini merupakan bahasa daerah Pinrang yang sangat sedikit dikuasai orang Pinrang sekalipun.
Ketua Regu 20 Rusdi Bin H. Abdul Rasyid (30) dari kloter III mengatakan, cukup terkendala dengan bahasa yang dimiliki Massangi. Dia hanya bisa memakai bahasa Patinjjo (Pinrang Pegunungan), dan tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia.
“Kami sama-sama orang pinrang namun bahasa kami berbeda saya pake bahasa Bugis dan bahasa Pak Massangi bahasa Patinnjo. Ini cukup membingungkan,” ujarnya menerangkan.
Meski demikian, perjuangan Massangi dalam menunaikan haji terbilang masih kuat, namun Rusdi dan teman lain terkendala dengan pendengaran dan bahasanya.
Dengan bahasa berbeda, Rusdi bertanya hanya menggunakan bahasa Bugis. Sedangkan Massangi menjawab dengan bahasa Pattinjo. “Dia jawab kalau saya bertanya pake bahasa Bugis, namun saya tidak mengerti apa dia bilang,” jelas Rusdi.




