Selasa 08 Sep 2015 00:49 WIB

Suka Duka Pengantar Obat Bersepeda Jamaah Haji

Rep: Ratna Puspita/ Red: Indira Rezkisari
Pasukan Tenaga Pengantar Obat (Tepat) siap mengantarkan obat dengan berbekal sepeda dan motor untuk menembus keruwetan Makkah.
Foto: Kemenag/Media Center Haji
Pasukan Tenaga Pengantar Obat (Tepat) siap mengantarkan obat dengan berbekal sepeda dan motor untuk menembus keruwetan Makkah.

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH -- Suhar Dani (42 tahun) merupakan satu dari sembilan anggota tenaga pengantar obat (TEPAT) pada penyelenggaraan haji tahun ini. Namun, ini bukan kali pertama pria asal Madiun itu bergabung dengan Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) Daerah Kerja (Daker) Makkah. 

"Sebelumnya sudah pernah pada 2013," kata Suhar, Senin (7/9). 

Suhar mengaku tertarik menjadi tenaga pengantar obat karena konsep tersebut unik dan lucu. Menurut dia, hanya Indonesia, negara pengirim jamaah haji ke Arab Saudi, yang memiliki ide cemerlang mengantarkan obat menggunakan sepeda. "Enggak ada bangsa lain yang punya ide seperti ini," kata dia. 

Suhar pun bercerita pengalaman bergabung dengan TEPAT dua tahun lalu. "Banyak pengalaman. Ada yang lucu, ada yang kesel," kata dia. Ayah empat orang anak ini pernah menabrak taksi ketika akan mengantarkan obat ke pemondokan di Sektor 6 dua tahun lalu. 

Kala itu, dia sedang melintasi wilayah dengan kontur jalan naik-turun. Dia tidak mengalami masalah ketika menggowes sepedanya di jalur yang menanjak. Masalah muncul ketika sepedanya akan melintasi jalur menurun. Remnya ternyata tidak berfungsi dengan baik alias blong. 

Di bagian bawah jalan, Suhar melihat ada sebuah taksi sedang berhenti. Dia berusaha berteriak kepada sopir taksi. Tapi, si sopir taksi tidak mendengar. Akhirnya, sepeda yang dia gowes pun mencium badan taksi itu. 

Sopir taksi langsung melajukan kendaraannya setelah Suhar terjatuh. "Saya tidak apa-apa, hanya lecet sedikit saja. Tapi, ban sepeda menjadi angka delapan," Suhar mengenang seraya tertawa. 

Suhar pun mengaku menjadi bahan tertawaan ketika itu. "Itu kejadian lucu. Tapi, kejadian itu seram juga," kata dia. 

Pengalaman lainnya, yaitu sepeda Suhar pernah dibawa main oleh anak-anak. Kala itu, Suhar sedang memarkir kendaraannya di luar pemondokan jamaah haji. Namun, dia lupa mengunci sepeda tersebut. 

Ketika keluar dari pemondokan, dia melihat anak-anak menaiki sepedanya. Anak-anak itu menggowes sepeda di jalur menanjak. "Saya langsung kejar dan panggil mereka. Tapi, waktu itu sedang tidak bawa obat," kata Suhar. 

Pengalaman lain yang mewarnai hari-hari Suhar sebagai tenaga pengantar obat, yaitu kesempatan belajar mengenai kesehatan dari petugas yang datang dari Indonesia. Suhar yang sehari-hari bekerja sebagai sopir ambulance di Jeddah jadi memiliki pemahaman mengenai obat. 

Menurut dia, tidak ada banyak kendala ketika melakoni tugas menggowes sepeda untuk mengantarkan obat. Kalau pun panas, dia terbiasa dengan suhu tinggi di Makkah karena sudah tinggal di Arab Saudi sejak 22 tahun silam. 

Kontur tanah yang tidak rata alias naik-turun juga bukan kendala. Menurut Suhar, dia memang harus mengerahkan tenaga lebih besar ketika menggowes sepeda di jalur menanjak. "Tapi, pas turunnya kan enak," kata dia. 

Suhar juga tidak keberatan dengan ketentuan larangan berhaji. Sebab, dia sudah pernah berhaji. Selain itu, ada tugas yang harus dilaksanakan ketika prosesi di Armina. "Intinya, lami harus siap untuk tidak berhaji." kata dia. 

TEPAT atau Tenaga Pengantar Obat merupakan strategi Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) Daerah Kerja (Daker) Makkah agar obat sampai di tangan jamaah tepat waktu. Lalu lintas Kota Makkah, Arab Saudi, mulai padat dengan kendaraan dapat menjadi kendala bagi petugas kesehatan yang akan mengambil obat atau mengantar obat kepada jamaah. Tenaga Pengantar Obat akan membantu pengiriman obat dari sektor ke kloter menggunakan sepeda atau sepeda motor.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement