Selasa 15 Sep 2015 20:13 WIB

Bekal Alquran Terjemahan

Kitab suci Alquran.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Kitab suci Alquran.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Panggilan ke Tanah Suci adalah suatu anugerah. Sering kali, seseorang yang tanpa memiliki bekal persiapan apa pun, tiba-tiba mendapat panggilan untuk menunaikan ibadah haji. Untuk itu, Allah tidak memilih-milih. Mereka yang mendapat panggilan ke Tanah Suci, belum tentu orang yang memang sudah taat menjalankan tuntunan Islam. Mereka yang shalat wajibnya masih bolong-bolong atau membaca Alquran pun belum lancar atau bahkan belum bisa, kadang juga mendapat ‘panggilan’ untuk menunaikan ibadah haji.

Namun, bila hidayah sudah diberikan, biasanya orang yang tidak memiliki bekal apa pun tetap akan memenuhi panggilan tersebut. Lantas, persiapan apa saja yang harus dipersiapkan bagi haji yang belum memiliki ‘bekal’ semacam itu?

Yang pertama, adalah persiapkan hati. Caranya, dengan melatih sikap sabar, tawakal, dan berpasrah diri. Soal pelaksanaan tata-cara ibadah haji, ikuti saja pembimbing haji yang biasanya akan mendampingi para jamaah. Bagi yang memiliki kesempatan untuk manasik, manfaatkan waktu manasik tersebut untuk mempelajari rangkaian prosesi haji yang harus dilakukan.

Namun, bagi yang tidak memiliki kesempatan manasik, sebaiknya sering-sering membaca buku panduan haji yang banyak dijual di toko buku. Tentunya, harus disertai dengan banyak bertanya kepada orang-orang yang sudah lebih dulu menunaikan ibadah haji. Karena banyak istilah dan tempat dalam prosesi haji yang kadang kurang gamblang dijelaskan dalam buku-buku panduan tersebut.

Selanjutnya, bekal penting yang harus dibawa ke Tanah Suci adalah Alquran yang ada terjemahan dalam bahasa Indonesia. Alquran ini sangat bermanfaat karena di Arab Saudi akan sulit menemukan Alquran yang ada terjemahan bahasa Indonesia.

Di masjid Nabawi Kota Madinah atau di Masjidil Haram Kota Makkah, memang disediakan ribuan kitab Alquran dalam berbagai ukuran. Ada yang ukuran besar maupun ukuran sedang. Namun, Alquran yang disediakan di masjid-masjid ini tak ada yang mencantumkan terjemahan dalam lain bahasa. Termasuk juga, terjemahan dalam bahasa Indonesia.

Untuk itu, jika membawa bekal Alquran yang ada terjemahannya, bekal itu akan sangat bermanfaat. Termasuk juga, bagi jamaah yang sudah bisa membaca Alquran, tetapi tidak bisa berbahasa Arab.

Bagi jamaah yang sudah bisa membaca Alquran, tetapi tidak berbahasa Arab, usaha memahami makna ayat-ayat suci Alquran bisa dilakukan. Tidak hanya sekadar membaca Alquran tanpa mengerti artinya. Sedangkan bagi yang tidak bisa membaca tulisan Alquran, paling tidak bisa membaca terjemahannya saja.

Dengan demikian, kegiatan sehari-hari di Masjid Nabawi atau di Masjidil Haram di luar waktu tawaf , tak hanya diisi dengan melaksanakan shalat wajib atau shalat sunah. Akan tetapi, juga bisa diisi dengan kegiatan membaca Alquran, baik dalam huruf hijaiyah atau huruf Arabnya, maupun terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Membawa Alquran dengan terjemahan dalam bahasa Indonesia ini juga sangat bermanfaat saat pelaksanakan wukuf di Arafah dan mabit di Mina. Saat pelaksanaan wukuf yang berlangsung sejak matahari terbit hingga matahari tergelincir di atas kepala, jamaah bisa mengisi waktu tersebut dengan mendengar khutbah, beriktikaf, melaksanakan shalat sunah, maupun membaca Alquran yang ada terjemahannya.

Demikian juga saat melaksanakan mabit di Mina. Selama tinggal di tenda-tenda kawasan Mina ini, jamaah bisa mengisi waktu-waktu luangnya dengan membaca Alquran yang ada terjemahan bahasa Indonesia. Dengan demikian, bagi jamaah yang tidak bisa membaca Alquran sekalipun, bisa mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang bermanfaat.

Sumber: Pusat Data Republika

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement