REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH -- Jamaah haji asal Kelompok terbang (Kloter) JKG 01 Embarkasi Jakarta-Pondokgede berangkat ke Jeddah dari Makkah pada Ahad (27/9) malam. Mereka sudah mengakhiri rangkaian ibadah haji di Tanah Suci selama 39 hari dan akan terbang ke tanah air Senin (29/9).
Jamaah asal Jakarta Utara, Wasroi Saprah Tahmid (55 tahun), mengatakan pelayanan penyelenggaraan haji sudah lumayan. Namun, dia mengeluhkan layanan makan yang dihentikan menjelang wukuf. "Harus rogoh kocek sendiri," kata dia, Ahad.
Jamaah lainnya, Riche Dories (39), juga mengatakan penghentian layanan makan siang dilakukan pada waktu yang kurang tepat. Sebab, jamaah sedang harus menjaga kondisi. "Penghentian layanan makan ini membuat suplai empat botol air setiap hari juga berkurang," kata dia.
Dia menyarankan layanan makan pada penyelenggaraan haji tahun depan harus ditambah. Kalau pun layanan makan hanya sementara, dia berharap, diberikan menjelang wukuf. "Itu fase krusial untuk jaga fisik," kata dia.
Saran lainnya, Riche menyatakan, terkait aplikasi haji pintar melalui telepon seluler berbasis Android. Dia mengapresiasi aplikasi ini yang memudahkannya membantu jamaah yang tersesat.
Namun, dia berharap ada banyak perbaikan di masa mendatang. Sebab, ada beberapa kekurangan yang menyulitkan Riche mencari tenda jamaah di Arafah dan Mina. "Tidak memuat keterangan maktab," kata dia.
Menurut Riche, keterangan maktab harus termuat dalam aplikasi Haji Pintar. Semua tempat tinggal jamaah selama di Makkah, Arafah, dan Mina menggunakan basis maktab. "Khususnya di Arafah dan Mina," ujar dia.
Apalagi, dia paling sering bertemu jamaah tersesat ketika berada di Arafah dan Mina. Namun, dia kesulitan memberikan informasi tempat tinggal jamaah tersebut lantaran tidak ada informasi maktab. "Tidak ada petanya juga, bingung mau mengarahkan ke mana," ujar Riche.




