Rabu 31 Aug 2016 14:37 WIB

Ketika Umar Bin Khattab Mencium Hajar Aswad

Hajar Aswad
Foto: Prasetyo Utomo/Antara
Hajar Aswad

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- "Hajar Aswad merupakan sebagian dari batu surga. Di Dunia ini tak ada yang dari surga selain dia. Pada asalnya, ia berwarna putih seputih air jernih. Seandainya tidak terkena najis kejahiliyahan, niscaya setiap orang berpenyakit kemudian memegangnya maka ia akan sembuh dari penyakitnya" (HR Thabrani melalui Ibnu Abbas ra).

Buya H Muhammad Alfis Chaniago dalam bukunya, Indeks Hadist dan Syarah menjelaskan, hajar aswad, batu dari surga yang dibawa oleh Malaikat Jibril untuk diletakan berdasarkan perintah dari Allah SWT. Pada mulanya, batu ini rupaya putih seperti air.

Pada zaman jahiliyah orang-orang musyrik selalu mengusapnya sehingga warnanya berubah hitam seperti sekarang. Seandainya, mereka tak menyentuhnya batu ini mungkin tak akan berwarna hitam.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari, Saidina Umar bin Al Khattab pernah mengecup Hajarul Aswad. Kemudiaan dia berkata, Demi Allah, aku tahu kamu hanyalah sebuah batu. Sekiranya aku tidak melihat sendiri Rasulullah SAW menciumu, pasti aku tak akan menciummu.

Soal itu Buya menjelaskan, Umar adalah sahabat Rasulullah yang cerdas. Ia mengetahui bahwa batu hanyalah benda yang sangat tidak patut untuk diposisikan suci sehingga harus menciumnya, bahkan seringkali pada masa jahiliyah, batu dijadikan patung yang kemudian dianggap berhala yang mereka Tuhankan.

Namun, batu ini merupakan pengecualian. Rasulullah SAW bahkan memerintahkan para sahabatnya untuk menciumnya. Sehingga Umar pun menciumnya.

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement