Senin 05 Dec 2016 13:14 WIB

Pelatihan Inovatif Dapat Turunkan Angka Kematian Jamaah Haji

Rep: Neni Ridarineni/ Red: Agus Yulianto
Sejumlah jamaah calon haji antre memmasuki pesawat saat pemberangkatan.
Foto: Antara/Aloysius Jarot Nugroho
Sejumlah jamaah calon haji antre memmasuki pesawat saat pemberangkatan.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Pelatihan inovatif dapat menurunkan angka kematian jamaah haji lanjut usia. Terutama pada fase Arofah, Muzdalifah, dan Mina (Armina) dan pascaarmina, serta menurunkan morbiditas jemaah haji lanjut usia rujukan.

Hal itu dikemukakan Spesilis Geriatri RSUP Dr Sardjito Probosuseno pada Ujian Terbuka Program Doktor Fakultas Kedokteran UGM dalam disertasinya yang berjudul “Pengaruh Pelatihan Inovatif terhadap Kinerja Petugas Kesehatan Haji Indonesia” (Kajian Geriatris Morbiditas, Mortalitias, Cost Effectiveness Jamaah Haji Indonesia Usia Lanjut, di Auditorium Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta, Senin (5/12).

Dia menjelaskan, pelatihan inovatif berisi kiat haji sehat secara praktis, terutama tepuk haji sehat (THJ), gerakan minum zam-zam dan makan kurma (Gemzar) dan Pusat KLB (gejala dan tanda penyakit berbahaya pada jamaah haji).

Menurut dia, pesan kesehatan untuk jamaah haji (JH), jamaah haji usia lanjut (JHUL) melalui tenaga kesehatan haji Indonesia (TKHI) yang merupakan personil strategis dalam menjaga status kesehatan JH dan melayani JH jika sakit, akan dapat menekan angka morbiditas dan mortalitas. Pesan yang mudah dipahami diharapkan akan mengubah sikap menuju pelaksanaan gaya hidup sehat berhaji, sehingga akan dapat mencegah kesakitan. Dan jika sakit akan mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat dan diharapkan dapat menurunkan angka kematian.

Karena itu, saran dia, perlu penerapan pelatihan inovatif untuk pelaksanaan musim haji tahun mendatang. Biaya sangat hemat  karena hanya menambahkan materi tepuk haji sehat, lagu gemzar dan pusat KLB pada TKHI, TKHD, PPIH hanya dengan menambah jam pelajaran sekitar 5-20 menit, dan pemasangan stiker THS  serta Pusat KLB hanya sekitar Rp 2.000 per jamaah haji. "Hal ini juga bisa dilakukan oleh KBIH atau yang lain," ujarnya saat menjelaskan dalam ujian terbuka.

Karena masa tunggu calon jamaah haji Indonesia untuk menunaikan ibadah haji cukup lama yang kini rata-rata sekitar 19-22 tahun, maka perlu dipersiapkan istithoah dari segi kesehatan. Selain itu, diusulkan kepada perguruan tinggi baik negeri maupun swasta terutama di fakultas kedokteran, sekolah tinggi kesehatan ada materi kuliah kesehatan haji, juga pada dokter layanan primer (dokter keluarga).

Probosuseno yang juga Ketua Perkumpulan Dokter Haji Yogyakarta ini, meraih nilai sangat memuaskan dari dari hasil ujian terbuka-nya. "Sebenarnya dengan IPK 3,8 layak mendapat cumlaude. Namun, karena waktu, akhirnya mendapat nilai sangat memuaskan," kata Dekan Fakultas Kedokteran UGM Ova Emilia. Probosuseno merupakan Doktor ke 3426 yang lulus di UGM.

Promotor Prof Ali Ghufron Mukti mengatakan, inovasi dalam disertasi Probosuseno tidak saja sebuah temuan, tapi bisa diterapkan kepada jamaah haji Indonesia. Karena itu, dia berharap, Probosuseno segera menulis dalam jurnal internasional.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement