Jumat 03 Feb 2017 09:50 WIB

Daftar Haji Ngantre 30 Tahun, Tapi tak Ada yang Ngantre Bayar Zakat

Daftar Haji
Foto: Dok. Republika
Daftar Haji

JAKARTA -- Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj menyindir kalangan orang kaya yang dinilainya justru susah membayar zakat dibandingkan kalangan menengah ke bawah. Bahkan, bila dibandingkan naik haji minat orang Muslim yang kaya untuk bayat zakat terbilang masih rendah.

"Tidak ada seorang Islam pun yang mengingkari kewajiban zakat, tapi dalam praktiknya kelas menengah ke bawah rajin zakat, kalau konglomerat, sudah kaya raya, itu susah sekali," katanya di Jakarta, Kamis.

Said Aqil mengemukakan hal itu saat membuka seminar "Penguatan Filantropi Islam Nusantara untuk Kemandirian Ekonomi Umat" yang digelar NU CARE-LAZISNU di Gedung PBNU.

Ia pun melanjutkan sindirannya. Menurut dia, melaksanakan kewajiban zakat memang jauh lebih berat dari menjalankan ibadah haji yang notabene justru membutuhkan biaya besar. Buktinya, untuk berhaji orang rela mengantre bertahun-tahun.

"Daftar haji mau ngantre 30 tahun, tapi tidak ada yang ngantre bayar zakat. Kalau ngantre menerima zakat itu banyak," katanya disambut tawa peserta seminar.

Namun, kata dia, bisa jadi orang kaya enggan membayar zakat bukan karena mereka tidak mau, melainkan karena kurang percaya kepada lembaga pengelola zakat.

"Ketidakpercayaan tersebut kadang tidak pada orangnya, tapi pada administrasinya," kata Said Aqil.

Oleh karena itu, kata dia, lembaga pengelola zakat, khususnya NU CARE-LAZISNU, harus introspeksi dan berbenah, lebih transparan, membangun kerja sama dengan siapa pun dengan modal kebaikan, proporsional, dan profesional, serta bertanggung jawab.

"Mari kita perbaiki diri kita dalam rangka membangun kepercayaan dari semuanya," kata Said Aqil.

Sementara itu, Ketua NU CARE-LAZISNU Syamsul Huda mengatakan, seminar dan workshop kali ini diharapkan menjadi modal untuk terus mengembangkan NU CARE-LAZISNU.

"Kita harus mengembangkan potensi di semua daerah untuk kepentingan daerah bersangkutan," katanya.

Ia menyebut gerakan sedekah Rp 500 per keluarga per hari di Sukabumi yang dipelopori pengasuh Pondok Pesantren Al Amin KH Abdul Basith yang terbukti bermanfaat bagi warga setempat bisa dijadikan contoh.

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement