IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Ali Syariati dalam karyanya Al-Faridhah al-Khamisah mengungkap, seorang manusia penting untuk memahami fungsi dan perannya masing-masing. Manusia sebagai khalifah di muka bumi berkewajiban melaksanakan segala amanah yang diberikan oleh Allah, termasuk dalam melaksanakan ibadah haji. Bukan hanya sekadar ritual, tetapi memahami dibalik makna dari setiap prosesi ibadah haji.
Misalnya, ketika seseorang telah melepaskan pakaiannya kemudian berganti dengan pakaian ihram, seharusnya mereka juga melepaskan seluruh atribut keduniaan untuk mengabdi hanya kepada Allah. Mereka harus tunduk pada aturan yang telah diputuskan.
Di sini juga dapat dipahami bahwa manusia harus berani dan rela melepaskan kedudukan, jabatan, dan semua formalitas di dunia ini di hadapan Allah. Semua manusia sama, berpakaian sama, ibadah yang dilaksanakan juga sama.
Lalu, ketika mereka melaksanakan tawaf, kata Syariati, semestinya manusia dan umat Muslim khususnya, dapat memahami bahwa dia sedang menjalani putaran waktu yang amat cepat. Karena itu, seorang manusia harus bisa memaksimalkan waktu dengan sebaik-baiknya. Sebab, bila salah, akibatnya akan fatal, yakni akan berhadapan dengan gelombang maha dahsyat yang siap menenggelamkannya.
Demikian pula saat mengerjakan sai, yakni berlari-lari kecil antara Bukit Shafa dan Marwah. Ritual lari-lari kecil yang merupakan simbol usaha dari Siti Hajar itu harusnya dipahami sebagai sebuah usaha yang harus dilakukan. “Sai adalah perjuangan,” demikian tulis Syariati. Yakni, perjuangan atau usaha mencari kehidupan yang diridai oleh Allah.
Saat melempar jumrah, jamaah haji harus memahami bahwa banyak godaan yang dialami setiap manusia. Karena itu, dengan tegas mereka harus berani menolaknya dengan usaha melempar simbol penggoda tersebut.
Ketika melaksanakan wukuf di Padang Arafah, jamaah haji harus memahami bahwa itu adalah gambaran saat-saat manusia akan dibangkitkan di Padang Mahsyar ketika kiamat terjadi. Tak ada dapat bisa menolong. Seluruh umat manusia hanya memokuskan dirinya sendiri. Karena itu, mereka harus banyak merenung, bermunajat, dan memohon ampun kepada Allah atas beragam macam perbuatannya selama di dunia.
Padang Arafah juga merupakan gambaran saat manusia akan ditimbang segala amal perbuatan baik dan buruk. Mereka harus bisa mempertanggungjawabkan segala perbuatannya di hadapan Allah.
Maka, ketika semua prosesi ini telah dilaksanakan dan catatan amal diterima, manusia hendaknya segera membersihkan diri dengan bertahalul, yakni memotong rambutnya.
Makna filosofis inilah yang tampaknya diharapkan oleh setiap jamaah haji ketika mereka melaksanakan rukun Islam yang kelima tersebut. Sebab, tanpa memahami makna dibalik ritual tersebut, ibadah yang dilaksanakan pun akan terasa hambar tanpa kesan.
Ali Syariati mencoba menuangkan pemikiran dan refleksi manasik bahwa pelaksanaan ibadah haji seharusnya menjadi kesempatan bagi setiap jamaah untuk meningkatkan kualitas keimanannya. Sebab, itulah tujuan dari pelaksanaan ibadah haji, yakni menggapai haji mabrur. Bila ibadah haji berhasil dilaksanakan dengan baik, sesuai dengan syarat dan rukunnya, niscaya dirinya akan menjadi seorang Muslim yang baik, patuh, dan taat dalam menjalankan ibadah. Disinilah, kata Syariati, pentingnya seorang Muslim memahami dan mengambil manfaat dari manasik haji.




